Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer

HUBUNGAN SEDENTARY LIFESTYLE TERHADAP LINGKAR PERUT SEBAGAI INDIKATOR OBESITAS SENTRAL PADA REMAJA

Abstract

Sedentary lifestyle merupakan salah satu faktor risiko meningkatnya obesitas sentral pada remaja, yang dapat diukur melalui lingkar perut. Aktivitas duduk dalam waktu lama, penggunaan gawai berlebih, serta rendahnya aktivitas fisik dapat menurunkan pengeluaran energi dan memicu penumpukan lemak di area abdomen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara sedentary lifestyle terhadap lingkar perut pada remaja usia 13–15 tahun di Kecamatan Tuban.

Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah responden 350 remaja yang dipilih melalui metode simple random sampling. Pengukuran tingkat sedentary lifestyle dilakukan menggunakan Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ), sedangkan pengukuran lingkar perut menggunakan metline. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat sedentary lifestyle kategori sedang (61,7%) dan berat (38,0%). Sebagian besar responden memiliki lingkar perut normal (71,4%), sementara 28,6% mengalami lingkar perut tidak normal. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara sedentary lifestyle dan lingkar perut (p = 0,000; r = 0,78) dengan kekuatan korelasi kuat.

Kesimpulannya, semakin tinggi tingkat sedentary lifestyle, semakin besar pula risiko peningkatan lingkar perut pada remaja. Hasil ini menegaskan pentingnya promosi aktivitas fisik dan pengurangan durasi duduk dalam upaya pencegahan obesitas sentral sejak usia remaja.

Keywords

Sedentary Lifestyle, Lingkar Perut, Obesitas Sentral, Remaja, Kesehatan Metabolik

pdf

References

  1. Dahriani, T. A., Murbawani, E. A., & Panunggal, B. (2016). Hubungan lingkar leher dan tebal lemak bawah kulit (skinfold) terhadap profil lipid pada remaja (Doctoral dissertation, Diponegoro University).
  2. Després, J.-P. (2012). Obesity and cardiovascular disease: Pathophysiology, evaluation, and effect of weight loss. Circulation, 126(4), 24-30.
  3. Dika Putra, & Sari, L. (2023). Hubungan antara aktivitas sedentari dan obesitas abdominal pada dewasa muda. Jurnal Gizi dan Kesehatan, 19(2), 90-97.
  4. Fanda, R. B., Salim, A., Muhartini, T., Utomo, K. P., Dewi, S. L., & Samara, C. A. (2020). Mengatasi Tingginya Konsumsi Minuman Berpemanis di Indonesia. PKMK UGM.
  5. Hall, K. D., Heymsfield, S. B., Kemnitz, J. W., Klein, S., Schoeller, D. A., & Speakman, J. R. (2012). Energy balance and its components: Implications for body weight regulation. The American Journal of Clinical Nutrition, 95(4), 989–994. https://doi.org/10.3945/ajcn.112.036350
  6. Hardy, L. L., Dobbins, T. A., & Booth, M. L. (2007). Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ). Journal of Science and Medicine in Sport, 10(2), 118-123.
  7. Harjatmo, T. P., Par'l, H. M., & Wiyono, S. (2017). Penilaian status gizi. BPPSDM Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  8. Iqbal, M., & Ngizan, F. N. (2023). Hubungan Gaya Hidup “Nongkrong”, Aktivitas Sedentary, dan Konsumsi Minuman Manis dengan Status Gizi pada Mahasiswa. JURNAL NUTRISIA, 25(1), 1-11.
  9. Iqbal, M., & Puspaningtyas, D. E. (2018). Penilaian status gizi ABCD. Salemba Medika.
  10. Jae, H., et al. (2017). The Impact of Sugary Beverages on Health. Nutritional Research Reviews, 30(1), 45-59.
  11. Janssen, I., Katzmarzyk, P. T., & Ross, R. (2005). The importance of physical activity in the prevention of obesity and related diseases. Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine, 159(1), 40-44.
  12. K. Abror. (2013). Interpretasi Data dalam Metode Penelitian. Yogyakarta: Penerbit Deepublish.
  13. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). (2023). Pedoman Gizi Seimbang. Kementerian Kesehatan RI.
  14. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). (2023). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023. Kementerian Kesehatan RI.
  15. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Petunjuk Teknis Pengukuran Antropometri Standar. Jakarta: Direktorat Gizi Masyarakat.
  16. Kusuma, R., & Lestari, N. (2019). Analisis hubungan antara aktivitas fisik dan konsumsi minuman kemasan pada remaja. Jurnal Ilmu Kesehatan, 8(4), 89-96.
  17. Leitzmann, M. F., et al. (2017). Sedentary behavior and its health impact. Journal of Physical Activity and Health, 14(2), 115-120.
  18. Lisa Oktavia, & Santoso, J. (2023). Pengaruh aktivitas fisik dan konsumsi minuman manis terhadap lingkar perut di kalangan remaja. Jurnal Kesehatan dan Kebugaran, 18(1), 65-73.
  19. Nurhuda, P. M., Ningrum, D., & Sopiah, P. (2024). Studi Sequential Explanatory Sedentary Lifestyle dan Lingkar Pinggang sebagai Parameter Obesitas Abdominal pada Pegawai. Jurnal Keperawatan Profesional (KEPO), 5(1), 41-52.
  20. Nursalam, N. (2014). Metodologi penelitian ilmu keperawatan (6th ed.). Salemba Medika.
  21. Nurtanio, E. (2017). Obesitas dan faktor-faktor risikonya. Jakarta: Penerbit Kesehatan Masyarakat Indonesia.
  22. Park, H., Choi, J. E., Jun, S., Lee, H., Kim, H. S., Lee, H. A., & Park, H. (2023). Metabolic complications of obesity in children and adolescents. Clinical and Experimental Pediatrics, 67(7), 347.
  23. Pramudita, A., & Nadhiroh, N. (2017). Pengaruh gaya hidup sedentari terhadap obesitas sentral pada remaja. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 8(2), 150-156.
  24. Pramudito, A., & Yulianti, L. (2020). Perilaku konsumsi minuman manis dan lingkar perut remaja. Jurnal Penelitian Gizi, 9(2), 75-82.
  25. Qi, Q., Chu, A. Y., Kang, J. H., Jensen, M. K., Curhan, G. C., Pasquale, L. R., … Hu, F. B. (2012). Sugar-sweetened beverages and genetic risk of obesity. New England Journal of Medicine, 367(15), 1387–1396. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1203039
  26. Ristanti, I. K., Nafies, D. A. A., Prasiwi, N. W., & Lailiyah, E. J. (2024). Hubungan asupan protein dengan status gizi pada remaja putri di pondok pesantren, Kabupaten Tuban. Jurnal Mitra Kesehatan, 6(2), 139-147.
  27. Safitri, D. E., & Rahayu, N. S. (2020). Determinan status gizi obesitas pada orang dewasa di perkotaan: Tinjauan sistematis. Arkesmas, 5(1), 8–16.
  28. Santoso, D., & Imelda, M. (2022). Pengaruh aktivitas fisik terhadap kesehatan tubuh remaja (1st ed.). Gaya Medika.
  29. Sari, D., & Putra, Y. (2021). Pengaruh aktivitas fisik dan konsumsi gula terhadap lingkar perut remaja. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 14(2), 112-119.
  30. Setiawan, D., & Lestari, W. (2022). Korelasi antara aktivitas fisik dan konsumsi gula dengan lingkar perut remaja. Jurnal Kesehatan dan Nutrisi, 20(1), 50-57.
  31. Setiawati, D., & Pradana, K. (2019). Akurasi pengukuran lingkar perut dibandingkan dengan indeks massa tubuh dalam mendeteksi lemak visceral. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 14(2), 112–120.
  32. Sofa, I. M. (2018). Kejadian obesitas, obesitas sentral, dan kelebihan lemak viseral pada lansia wanita. Amerta Nutrition, 2(3), 229–230.
  33. Susanto, A. (2019). Gaya hidup sedentari dan dampaknya terhadap lingkar perut pada remaja. Jurnal Kesehatan Remaja, 11(3), 101-108.
  34. Tarigan, A. (2023). Konsumsi minuman berpemanis dan risiko obesitas sentral pada remaja. Jurnal Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 12(2), 115–123.

Similar Articles

1-10 of 233

You may also start an advanced similarity search for this article.