Fenomena Gray Divorce: Mengapa Pasangan Usia Senja Memilih Bercerai?
Keywords:
Gray Divorce, Perceraian Lansia, Dampak Sosial, Implikasi Ekonomi, Faktor BudayaAbstract
Fenomena gray divorce, yaitu perceraian yang terjadi pada pasangan usia lanjut, beberapa tahun terakhir semakin banyak yang menarik perhatian, termasuk di Indonesia. Banyak pasangan yang telah menikah puluhan tahun tetapi memilih berpisah ketika memasuki masa pensiun. Penyebab utama terjadinya perceraian di usia lanjut dikarenakan perubahan peran dalam keluarga, di mana anak-anak telah dewasa dan pasangan memasuki usia pensiun, struktur peran ini mulai bergeser, selain itu hilangnya kedekatan emosional, serta tekanan ekonomi pasca-pensiun. Penelitian ini bertujuan untuk memahami faktor-faktor penyebab serta dampak sosial dan ekonomi dari perceraian pada usia senja. Metode yang digunakan adalah literature review, dengan menelaah berbagai artikel, buku, dan laporan penelitian yang terbit dalam rentang waktu 5 tahun terakhir. Berdasarkan hasil literature review menunjukkan bahwa gray divorce dapat menimbulkan tekanan psikologis, menurunkan stabilitas finansial, serta memperlemah dukungan sosial dalam komunitas. Selain itu, perubahan nilai dan ekspektasi terhadap kebahagiaan individu di usia lanjut turut memperkuat keputusan untuk berpisah. Kesimpulannya, fenomena gray divorce bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga isu sosial yang perlu diperhatikan oleh masyarakat dan pembuat kebijakan, agar kesejahteraan emosional dan ekonomi lansia tetap terjaga di masa tua.
Downloads
References
Amato, P. R. (2010). Research on divorce: Continuing trends and new developments. Journal of Marriage and Family, 72(3), 650–666. https://doi.org/10.1111/j.1741-3737.2010.00723.x
Aryani, R. K. (2019). Empty nest syndrome pada wanita dewasa madya (Doctoral dissertation, Universitas Medan Area).
Badan Pusat Statistik. (2025). Jumlah perceraian menurut provinsi dan faktor penyebab perceraian (perkara) tahun 2024. Retrieved October 15, 2025, from https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/YVdoU1IwVmlTM2h4YzFoV1psWkViRXhqTlZwRFVUMDkjMw==/jumlah-perceraian-menurut-provinsi-dan-faktor-penyebab-perceraian--perkara---2024.html
Benson, J. J., Olivia, L., Donehower, A. K., & Sanders, C. (2022). Relief, regrets, and reinvention: Life after gray divorce. Innovation in Aging. https://doi.org/10.1093/geroni/igac059.158
Bildtgård, T., & Öberg, P. (2025). Uncoupling in the third age—The importance of the existential context for late-life divorce. Ageing & Society, 45(1), 100–122. https://doi.org/10.1017/S0144686X23000272
Brown, S. L., & Lin, I.-F. (2022). The graying of divorce: A half century of change. The Journals of Gerontology: Series B, Psychological Sciences and Social Sciences, 77(9), 1718–1726. https://doi.org/10.1093/geronb/gbac057
Carr, D., & Utz, R. L. (2020). Families in later life: A decade in review. Journal of Marriage and Family, 82(1), 346–363. https://doi.org/10.1111/jomf.12609
Collins, R. (2019). Conflict sociology: A sociological classic updated. Routledge.
Crowley, J. E. (2019). Does everything fall apart? Life assessments following a gray divorce. Journal of Family Issues. https://doi.org/10.1177/0192513X19839735
Dataindonesia.id. (2023). Perselisihan jadi sebab utama perceraian di Indonesia pada 2022. Retrieved October 15, 2025, from https://dataindonesia.id/varia/detail/perselisihan-jadi-sebab-utama-perceraian-di-indonesia-pada-2022
Firmannulloh, A. (2024). Analisis faktor penyebab terjadinya gray divorce di Pengadilan Agama Cilacap tahun 2024. Repository UIN Saizu. Retrieved from https://repository.uinsaizu.ac.id/25990/1/SKRIPSI_AKBAR%20FIRMANNULLOH.pdf
Korenman, S., & Zhao, Z. (2020). The economic consequences of gray divorce for women and men. The Journals of Gerontology: Series B, 76(2), 324–333. https://doi.org/10.1093/geronb/gbaa131
Lin, I.-F., Brown, S. L., & Mellencamp, K. A. (2023). Gray divorce and parent–child disconnectedness: Implications for depressive symptoms. Journal of Marriage and Family. https://doi.org/10.1111/jomf.12936
Masri, M. (2024). Konsep keluarga harmonis dalam bingkai sakinah, mawaddah, warahmah. Tahqiqa, 18(1), 33–47. https://doi.org/10.61393/tahqiqa.v18i1.219
Park, S. (2023). The gray divorce revolution in Korea. Sociological Perspectives, 66(5), 912–930. https://doi.org/10.1177/15365042231210832
Schafer, M. H. (2024). Parent-child relationships following gray divorce: Stronger ties with mothers, weaker ties with fathers. The Journals of Gerontology: Series B, 79(5), gbaf001. https://doi.org/10.1093/geronb/gbae001
Shalihah, A. Z. (2024). Empty nest syndrome ditinjau berdasarkan jenis kelamin pada lansia di Kabupaten Pidie Provinsi Aceh (Doctoral dissertation, UIN Ar-Raniry Fakultas Psikologi).
Sitorus, R. (2023). Pendekatan pastoral dalam menghadapi konflik perkawinan di komunitas Kristen Indonesia. Jurnal Teologi Praktis, 8(2), 67–80.
Sofyan, A., & Yatul, R. (2023). Factors causing divorce for old age couples in society. Jurnal Mahadi: Journal of Social Science, 1(2), 1–10. https://doi.org/10.21093/jm.v1i2.7223
Utomo, A., & Aditya, B. (2025). Attitudes toward divorce in Indonesia. Family Transitions, 1–29.
van den Broek, T., & Kravdal, Ø. (2025). Gray divorce among migrants and non-migrants in Norway: Trends and implications for mental healthcare use. The Journals of Gerontology: Series B, 80(8), gbaf118. https://doi.org/10.1093/geronb/gbaf118
Wong, J. S., & Waite, L. J. (2020). Economic consequences of divorce in later life. The Gerontologist, 60(4), 589–598. https://doi.org/10.1093/geront/gnz149

