MAKNA FILOSOFI TRADISI MATTENNUNG MASYARAKAT WAJO SEBAGAI LANDASAN KONSELING BUDAYA

Authors

  • Muhammad Ikbal UIN Alauddin Makassar Author

Keywords:

mattennung, Wajo, kearifan lokal, konseling budaya, nilai filosofis.

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna filosofis tradisi mattennung pada masyarakat Wajo dan menganalisis relevansinya sebagai landasan dalam pengembangan konseling berbasis budaya. Tradisi menenun, yang telah diwariskan secara turun-temurun, tidak hanya berfungsi sebagai keterampilan ekonomi dan ekspresi estetika, tetapi juga sebagai sistem nilai yang terinternalisasi dalam kehidupan sosial masyarakat Bugis Wajo. Nilai-nilai yang tercermin dalam proses menenun seperti kesabaran (alempureng), keteraturan (mapparengnge’), keharmonisan (mappasilaingeng), kreativitas, serta identitas budaya menjadi pedoman moral dan mekanisme regulasi diri yang membentuk karakter, cara berpikir, dan relasi sosial masyarakat.

Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur dengan menelaah berbagai sumber akademik yang relevan mengenai tradisi mattennung, kearifan lokal, dan konseling multibudaya. Analisis isi dilakukan untuk mengidentifikasi tema-tema filosofis yang muncul dalam praktik menenun serta bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diintegrasikan ke dalam pendekatan konseling budaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa mattennung mengandung struktur simbolik dan naratif yang dapat dimanfaatkan sebagai metafora terapeutik dalam konseling, seperti proses bertahap dalam menenun yang mencerminkan perjalanan perubahan diri, pola motif sebagai simbol keteraturan emosional, serta ritme kerja menenun yang berfungsi sebagai ruang reflektif mirip praktik mindfulness.

Temuan penelitian menegaskan bahwa tradisi mattennung memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kerangka konseptual dalam konseling berbasis budaya. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini dapat memperkuat hubungan terapeutik, meningkatkan sensitivitas budaya konselor, serta membantu klien membangun identitas diri dan resiliensi berdasarkan kearifan lokal. Dengan demikian, mattennung bukan hanya artefak budaya, tetapi juga modal psikososial yang relevan untuk merancang intervensi konseling yang kontekstual, humanistik, dan selaras dengan karakter masyarakat Bugis Wajo.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Agus. (2018). KAJIAN BENTUK DAN MAKNA CORAK PADA KAIN SUTERA KOTA SENGKANG KABUPATEN WAJO.

Amir, S. (2018). SULAPA EPPA PADA LIPA SABBE SENGKANG. 16, 50–58.

Ba, S. (2024). Qualitative-Data-Analysis. January 2021. https://doi.org/10.4018/978-1-7998-6622-0.ch010

Creswelll, J. W., & Poth, C. N. (2018). Research Design.

Hardiyanti Hanur, A. (2014). MAKNA BALO LIPAQ SABBE ( UNDERSTANDING OF LOCAL WISDOM OF BUGINESE WAJO COMMUNITY THROUGH OF BALO LIPA SABBE MEANING .). 187–199.

Ismail, I. H. (2024). Metode Penelitian Kualitatif. November.

Jalaluddin Rumi. (2017). Sabbe Synthesist: Diskursus Motif Dasar Pengembangan Sarung Sutera Sengkang Sebagai Identitas dan Potensinya dalam Industri Kreatif. 4. https://doi.org/https://doi.org/10.26858/tanra.v4i2.4389

Karta, Abdul Aziz Said, D. C. (2019). DIVERSIFICATION STRATEGY OF WAJO SILK CONCENTRIS WEAVING STRATEGI DIVERSIFIKASI KONSENTRIS TENUN SUTERA WAJO Karta Universitas Negeri Makassar Abdul Azis Said Universitas Negeri Makassar Dian Cahyadi Universitas Negeri Makassar Abstract Sengkang silk weav. 6(2).

Kesuma, A. I. (2018). EKSISTENSI KOMUNITAS PENENUN BUGIS (SEBUAH REFLEKSI SOSIO-KULTURAL MASYARAKAT WAJO). 1.

Maqomam Mahmuda., S. (2025). KONSELING BERBASIS BUDAYA: KONSELING DI TENGAH KEBERAGAMAN BUDAYA DI INDONESIA. 11, 279–286.

MUHAMMAD FAISAL. (2025). MAKNA PADA MOTIF DAN CORAK LIPA SA’BE (SARUNG SUTERA) DI KOTA SENGKANG KABUPATEN WAJO OLEH.

Muhammad Syukur. (2016a). Social Network Of Bugis Weavers At Wajo Regency, South Sulawesi. 8.

Muhammad Syukur. (2016b). Social Network of Bugis Weavers at Wajo Regency , South Sulawesi. 8(1), 155–168. https://doi.org/10.15294/komunitas.v8i1.3437

Noor, F., Isti, L., Ma, Z., Aulia, R., Tripasca, A., Azzahra, N. F., & Syazani, A. G. (2025). Pendekatan Sosial Budaya dalam Membentuk Konseling yang Inklusif dan Efektif di SMAN 7 Tasikmalaya.

Nurhadelia Fadeli Luran, Tasrifin Tahara, S. A. (2022). Perubahan Makna dan Simbol Pada Motif Kain Sutera pada kalangan Remaja Bugis di Kabupaten Wajo. Jurnal Mahasiswa Antropologi, 1(2), 91–116.

Rina Khuzaimah Basri, S. S. (2024). Menemu Jati Diri, Mengampu Nilai: Tafsir Antologi Cerita Rakyat Daerah Wajo Sulawesi Selatan. 7, 81–97.

Rizky, M., Syahputra, A., Efendi, M. Y., & Al, B. (2025). Perspektif Multibudaya Dalam Bimbingan dan Konseling. 2(2018), 292–303.

Soejanto, L. T., Bariyyah, K., & Andrianie, S. (2024). Kecerdasan Budaya Guru BK dan Implikasinya pada Layanan Konseling Multikultural. 8(2).

Supratiwi Amir, F. S. (2022). Eksistensi kain tenun lipa’sabbe dalam masyarakat suku bugis di kota sengkang kabupaten wajo sulawesi selatan. 5(2).

Yasinta, S. D., Shakila, D. N., & Ramadhan, R. M. (2025). Pelatihan Konseling Multibudaya dalam Pendidikan Konselor. 2.

Downloads

Published

2025-12-03

How to Cite

MAKNA FILOSOFI TRADISI MATTENNUNG MASYARAKAT WAJO SEBAGAI LANDASAN KONSELING BUDAYA. (2025). Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial, 11(9), 331-340. https://cibjournal.com/index.php/triwikrama/article/view/2771

Similar Articles

31-40 of 267

You may also start an advanced similarity search for this article.