Ruwat Desa Sebagai Media Pelastarian Identitas Lokal: Studi Etnografi Di Desa Pepe Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo
Keywords:
Ruwat Desa, identitas lokal, pelestarian budaya, etnografi, kohesi sosialAbstract
Penelitian ini mengkaji tradisi Ruwat Desa di Desa Pepe, Kecamatan Sedati, Sidoarjo sebagai media penguatan identitas lokal. Identitas lokal penting sebagai penyeimbang arus modernisasi yang sering mengikis nilai-nilai budaya. Ruwat Desa dipandang bukan sekedar ritual tahunan, melainkan modal sosial yang dihilangkan pada budaya keagamaan masyarakat. Dengan metode kualitatif etnografi, penelitian ini memberikan gambaran mendalam mengenai simbolisme ritual dan kohesi sosial yang lahir darinya. Temuan menunjukkan masyarakat agamis Desa Pepe memiliki komitmen yang kuat melestarikan tradisi, sehingga mampu memperkuat solidaritas sosial, menegaskan nilai gotong royong, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya lokal. Lebih jauh lagi, Ruwat Desa berfungsi sebagai perlawanan kultural terhadap homogenisasi akibat globalisasi. Dengan demikian, tradisi ini berperan strategis dalam menjaga keberlangsungan identitas lokal sekaligus meneguhkan jati diri masyarakat di tengah perubahan zaman.
Downloads
References
Alviano, I., & Saloom, G. (2022). Validasi Pengukuran Identitas Sosial Versi Indonesia Dengan Analisis Faktor Konfirmatori ( CFA ). Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 10(4), 761–769.
E.B, G. A. (2023). Globalisasi Budaya, Homogenisasi dan Pengaruhnya terhadap Identitas Budaya Lokal. Janaloka: Jurnal Ilmu Komunikasi, 1(2), 71–80. https://journals.usm.ac.id/index.php/janaloka/article/view/8222%0Ahttps://journals.usm.ac.id/index.php/janaloka/article/download/8222/3677
Etnopedagogik, S., & Sidoarjo, D. I. (2025). Edukasi Multikultural Dalam Tradisi Ruwah Desa : 5(2), 1835–1843.
Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. Basic Books.
Hakiki, L. (2022). Nilai-Nilai Multikulturalisme Dalam Tradisi Ruwat Desa Di Desa Pronojiwo Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang. Jurnal Adat Dan Budaya Indonesia, 4(1), 20–25. https://doi.org/10.23887/jabi.v4i1.42339
Hardiansyah, B., Iriyadi, D., & Gufron, I. A. (2022). Akulturasi Islam pada budaya Ruwatan Rumah di Cikidi Hilir Banten. Satwika : Kajian Ilmu Budaya Dan Perubahan Sosial, 6(1), 50–61. https://doi.org/10.22219/satwika.v6i1.19755
Jadidah, I. T., Alfarizi, M. R., Liza, L. L., Sapitri, W., & Khairunnisa, N. (2023). Analysis of the Impact of Globalisation on Local Culture (Indonesia). Academy of Social Science and Global Citizenship Journal, 3(2), 40–47.
Meizandi, A. (2025). Setyaki. 3, 1–10.
Mujiati, N. (2020). Transformasi Tradisi Lokal ke Tradisi Islam: Studi Pada Masyarakat Jolotundo Dalam Perspektif Pemrosesan-Informasi. Tesis, 1–170. http://digilib.uinsa.ac.id/44871/2/Nanik Mujiati_F52718305.pdf
Nugraha, Y. A., Samian, S., & Riantoputra, C. D. (2020). Anteseden leader endorsement: Perspektif teori identitas sosial. Jurnal Psikologi Sosial, 18(3), 224–235. https://doi.org/10.7454/jps.2020.22
Salsa, P., Khotimah, I., Suryandari, N., Madura, U. T., & Ilmu, P. S. (2025). Simbiolisme Akulturatif dan Toleransi Umat Hindu-Islam : Islam : Analisis Interaksionisme Simbolik pada Upacara Unan-Unan Unan Wilayah Tengger di Tosari.
Suyanto, B. (2011). Ritual Slametan dalam Budaya Jawa. LKiS.
Turner, V. (1967). The Forest of Symbols: Aspects of Ndembu Ritual. Cornell University Press.
Wahidah, H. (2015). The Ritual and Mythology of Ruwatan in Mojokerto. Religió: Jurnal Studi Agama-Agama, 5(2). https://doi.org/10.15642/religio.v5i2.573
Wanulu, R. (2016). Makna Interaksi Simbolik Pada Proses Upacara Adat Cume dan Sampua Suku Buton di Samarinda. EJournal Ilmu Komunikasi, 4(3), 265–279.
Windiani, & Farida, N. (2016). Menggunakan Metode Etmografi dalam Penelitian Sosial. Dimensi, 9(2), 87–92.

