Revitalisasi Nilai-Nilai Religiusitas Komunal : Studi Fenomenologi Malam Barikan di Dusun Kedungrejo Timur, Kec.Waru, Kab. Sidoarjo
Keywords:
barikan, religiusitas komunal, fenomenologi, revitalisasi, tradisi lokalAbstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan tradisi lokal dalam menghadapi arus modernitas yang berpotensi melemahkan religiusitas komunal masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk memahami revitalisasi nilai-nilai religiusitas komunal dalam tradisi malam barikan di Dusun Kedungrejo Timur, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo. Barikan merupakan tradisi religius-komunal yang memadukan doa bersama, tahlil, makan bersama, dan pembagian berkat sebagai ekspresi syukur sekaligus penguat ikatan sosial masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa barikan memiliki fungsi spiritual, sosial, edukatif, dan komunal. Tradisi ini mampu memperkuat kohesi sosial, menjadi media pendidikan nilai religius, serta menjaga identitas budaya lokal. Namun, pelaksanaannya menghadapi tantangan berupa menurunnya minat generasi muda, keterbatasan dana, serta perbedaan pandangan keagamaan. Strategi revitalisasi dilakukan melalui kolaborasi tokoh agama, perangkat desa, dan pemuda dengan memanfaatkan forum pendidikan nonformal serta media digital. Revitalisasi tersebut menghasilkan peningkatan kesadaran spiritual, keterlibatan generasi muda, serta penguatan solidaritas sosial. Dengan demikian, malam barikan tetap relevan dan bermakna di era modern sebagai sarana pewarisan nilai-nilai religiusitas komunal.
Downloads
References
Agustina, A., Ismaya, E. A., & Setiawan, D. (2022). Makna tradisi barikan bagi pendidikan karakter anak Desa Sedo Demak. Jurnal Educatio FKIP UNMA, 7(3).
Durkheim, E. (1912). The elementary forms of religious life. New York, NY: Free Press.
Farisa, T. L. (2010). Ritual petik laut dalam arus perubahan sosial di Desa Kedungrejo, Muncar, Banyuwangi (Skripsi tidak dipublikasikan). Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Giddens, A. (1984). The constitution of society: Outline of the theory of structuration. Cambridge: Polity Press.
Geertz, C. (1983). Abangan, santri, priyayi dalam masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.
Geertz, C. (1989). The religion of Java. Chicago, IL: University of Chicago Press.
Hefner, R. W. (1999). Routledge handbook of contemporary Indonesia. London: Routledge.
Husserl, E. (1931). Ideas: General introduction to pure phenomenology. London: George Allen & Unwin.
Koentjaraningrat. (2002). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Koentjaraningrat. (2002). Pengantar ilmu antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Munsifah. (2021). Studi fenomenologi dalam kegiatan shalat sunnah malam Jumat di Masjid Tegalsari Jetis Ponorogo. Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 2(1).
Pranowo, M. B. (2011). Revitalisasi tradisi lokal dalam arus modernisasi. Jakarta: LIPI Press.
Sarwi. (2020). Makna simbolik tradisi barikan dan relevansinya dengan pattidana dalam Buddhisme. Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budaya, 1(2).
Schutz, A. (1967). The phenomenology of the social world. Evanston, IL: Northwestern University Press.
Skripsi. (n.d.). Pemaknaan tradisi barikan dalam konteks pendidikan anak di Dukuh Karang Gempol, Pati (Skripsi tidak dipublikasikan). STKIP Yapis Dompu.
Spradley, J. P. (1980). Participant observation. New York, NY: Holt, Rinehart and Winston.
Sutiyono. (2010). Ritual dan tradisi Jawa: Perspektif antropologi. Yogyakarta: Ombak.
Syam, N. (2005). Islam pesisir. Yogyakarta: LKiS.
van der Leeuw, G. (1964). Religion in essence and manifestation: A study in phenomenology. New York, NY: Harper & Row.
Woodward, M. R. (2011). Islam Jawa: Kesalehan normatif versus kebatinan. Yogyakarta: LKiS.

