TRADISI TABUIK DI PARIAMAN SEBAGAI EKSPRESI SOLIDARITAS SOSIAL: KAJIAN TAFSIR AYAT SOSIAL-BUDAYA TERHADAP QS. AL-HUJURAT: AYAT 10

Authors

  • Sofia Hani UIN Sultan Syarif Kasim Riau Author
  • Edi Hermanto UIN Sultan Syarif Kasim Riau Author

Keywords:

Tradisi Tabuik, Solidaritas Sosial, Tafsir Sosial-Budaya, QS. Al-Hujurat Ayat 10, Budaya Islam

Abstract

Tradisi Tabuik di Kota Pariaman merupakan praktik budaya yang lahir dari proses historis dan akulturasi sosial yang panjang antara tradisi Islam dan budaya lokal Minangkabau. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai perayaan kultural, tetapi juga sebagai medium ekspresi solidaritas sosial dan pembentukan identitas kolektif masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis Tradisi Tabuik dalam perspektif tafsir ayat sosial-budaya, khususnya QS. Al-Hujurat ayat 10, yang menegaskan prinsip persaudaraan dan rekonsiliasi sosial dalam Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan, memadukan kajian tafsir klasik dan kontemporer—terutama tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab—serta studi literatur tentang Tradisi Tabuik dan dinamika sosial-budaya masyarakat Pariaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ukhuwah dan ishlāḥ yang terkandung dalam QS. Al-Hujurat ayat 10 terefleksikan secara nyata dalam praktik Tradisi Tabuik melalui partisipasi kolektif, simbolisme kebersamaan, serta fungsi rekonsiliasi sosial. Namun demikian, modernisasi dan globalisasi menghadirkan tantangan berupa komodifikasi budaya dan pergeseran makna ritual. Oleh karena itu, diperlukan strategi pelestarian adaptif yang mampu menjaga nilai-nilai substantif Tradisi Tabuik agar tetap relevan sebagai ekspresi budaya sekaligus aktualisasi nilai-nilai sosial Islam dalam masyarakat kontemporer.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Arifian, F. R. (2021). Kebudayaan Tabuik sebagai upacara adat di Kota Pariaman. Jurnal Ilmu Sosial FIS.

Dalmeda, M. A., & Elian, N. (2016). Makna tradisi Tabuik oleh masyarakat Kota Pariaman. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, 18(2).

Fatmawati, S. (2025). Dilema gerakan pemurnian Islam: Hukum dakwah dalam Al-Qur’an; Mengkaji makna perintah dakwah. Salam: Jurnal Sosial Budaya Syar’i, 10(3).

Hamid, A., Wardah, D. A., & Mubarok, M. S. (2024). Sambatan traditions: A portrait of moderation against the polarization of society in the democratic party towards a year of harmony. Studi Jurnal Keagamaan Syekh Nurjati, 4(1).

Ibnu Katsir. (2016). Tafsir al-Qur’an al-‘Azim (Terjemahan Indonesia, Vol. 10). Solo: Insan Kamil.

Jamaludin, A. N. (2025). Acculturation of Islamic values and local culture: A semiotic analysis of symbols and rituals in the Sekura Festival tradition in West Lampung. Salam: Jurnal Sosial Budaya Syar’i, 10(3).

Ramadhani, S. (2025). Peran tradisi Tabuik dalam pelestarian sejarah dan identitas budaya masyarakat. Jurnal Social Empirical, 2(1).

Shihab, M. Q. (2002). Tafsir al-Mishbah: Pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an (Vols. 1–15). Jakarta: Lentera Hati.

Valentine, F. (2022). Kontestasi pemaknaan ritual Tabut: Perspektif ideologi dan kekuasaan. Al-Fikra: Jurnal Ilmiah Keislaman, 21(2).

Violina, I. (2023). Tabuik, warisan budaya Islam Sumatera Barat. Jurnal Sosmaniora, 2(3).

Zambala, R. (n.d.). Al Ukhuwwa verse (Qur’an 49:10): Makna persaudaraan dan rekonsiliasi. https://islam.redzambala.com/al-ukhuwwa-verse-quran-4910/

Downloads

Published

2025-12-30

How to Cite

TRADISI TABUIK DI PARIAMAN SEBAGAI EKSPRESI SOLIDARITAS SOSIAL: KAJIAN TAFSIR AYAT SOSIAL-BUDAYA TERHADAP QS. AL-HUJURAT: AYAT 10. (2025). Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial, 11(9), 2881-2890. https://cibjournal.com/index.php/triwikrama/article/view/5108

Similar Articles

1-10 of 658

You may also start an advanced similarity search for this article.