Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer

EVALUASI SURVEILANS TUBERKULOSIS PARU DI UPTD PUSKESMAS CIAWI TAHUN 2025

Abstract

Tuberkulosis paru merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, termasuk di Kabupaten Tasikmalaya. UPTD Puskesmas Ciawi sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki peran penting dalam surveilans TB, mulai dari pencatatan, pelaporan, hingga pemantauan kasus. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan surveilans TB paru di UPTD Puskesmas Ciawi berdasarkan komponen input, proses, dan output. Penelitian menggunakan desain deskriptif observasional dengan pendekatan kualitatif melalui observasi, telaah dokumen, dan wawancara dengan petugas program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber daya manusia memiliki kompetensi yang sesuai, sarana prasarana memadai, dan prosedur pelaporan telah mengikuti standar nasional. Namun, ditemukan keterbatasan jumlah petugas, gangguan teknis aplikasi, dan keterlambatan logistik yang berpotensi memengaruhi ketepatan waktu pelaporan. Data hasil surveilans sudah dimanfaatkan untuk pemetaan kasus dan perencanaan intervensi, tetapi pemanfaatannya untuk pengambilan keputusan strategis masih terbatas. Secara umum, sistem surveilans TB di UPTD Puskesmas Ciawi dinilai berjalan cukup baik, namun perlu penguatan dalam pemantauan kasus putus obat, validasi data, dan kolaborasi lintas sektor.

Keywords

Sistem Surveilans, Tuberkulosis, Penilaian Atribut, Evaluasi

pdf

References

  1. Badan Pusat Statistik Kabupaten Tasikmalaya. (2024). Kecamatan Ciawi dalam Angka 2024 = Ciawi District In Figures 2024. Tasikmalaya: BPS Kabupaten Tasikmalaya.
  2. Handayani, L. (2024). Studi Epidemiologi Tuberkulosis Paru (TB) di Indonesia: Temuan Survey Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jurnal Kendari Kesehatan Masyarakat, 4(1), 59-67.
  3. Hasnanisa, N., Prasetyo, S., & Burhanudin, A. (2022). Evaluasi Sistem Surveilans Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan, 2(3), 5.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/755/2019 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  5. Puskesmas Ciawi. (2024). Profil Puskesmas Ciawi 2024. Ciawi: Puskesmas Ciawi.
  6. Suarnianti, S., & BN, I. R. (2023). Analisis Disparitas Prevalensi Tuberculosis Paru Di Tinjau Dari Faktor Sosiodemografi. JIMPK: Jurnal Ilmiah Mahasiswa & Penelitian Keperawatan, 3(3), 112-120.
  7. Uddin, L., Wahyuni, C. U., & Setiawan, A. Y. (2021). Evaluasi Sistem Surveilans Tuberkulosis (TB) di Kabupaten Jember Berdasarkan Atribut Sistem Surveilans. Jurnal Kesehatan Global, 4(1), 41-53.
  8. Wardani, R. S. (2020). Basis Data Sistem Informasi Surveilans Tuberkulosis. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 6(1).
  9. World Health Organization. (2024). Global tuberculosis report 2024. Geneva: World Health Organization.
  10. World Health Organization. (2022). WHO operational handbook on tuberculosis. Module 5: management of tuberculosis in children and adolescents. World Health Organization.
  11. Centers for Disease Control and Prevention. (2024, 20 Mei). About Bovine Tuberculosis in Humans. Diambil dari https://www.cdc.gov/tb/about/m-bovis.html
  12. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, 25 Maret). Aksi nyata percepatan eliminasi tuberkulosis di Indonesia. Diambil dari https://kemkes.go.id/id/47510
  13. World Health Organization, Regional Office for the Eastern Mediterranean. (n.d.). Public health surveillance. Diambil dari https://www.emro.who.int/health-topics/public-health-surveillance/index.html

Similar Articles

1-10 of 73

You may also start an advanced similarity search for this article.