Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU SWAMEDIKASI ANALGESIK PADA MASYARAKAT UMUM DI PUSKESMAS KOTA SELATAN GORONTALO

Abstract

Pendahuluan: Swamedikasi obat analgesik ialah praktik yang umum dilaksanakan masyarakat untuk mengatasi nyeri ringan. Data Badan Pusat Statistik tahun 2024 mengindikasi 79,74% masyarakat Indonesia melakukan swamedikasi, dengan Gorontalo mencapai 83,14%. Praktik swamedikasi yang tidak tepat dapat menimbulkan risiko kesehatan serius seperti gangguan gastrointestinal, hepatotoksisitas akibat overdosis parasetamol, nefrotoksisitas, reaksi alergi, hingga penyalahgunaan obat yang seharusnya digunakan dengan pengawasan medis. Riset berikut bermaksud menganalisis hubungan diantara tingkat pengetahuan dengan perilaku swamedikasi penggunaan obat analgesik pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kota Selatan Gorontalo. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional dilaksanakan pada 100 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling dengan metode consecutive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan kategori cukup (72,0%) dan perilaku swamedikasi kategori kurang (42,0%). Terdapat hubungan signifikan diantara tingkat pengetahuan dengan perilaku swamedikasi dengan kekuatan korelasi positif sedang, mengindikasi bahwasanya makin baik pengetahuan seseorang, makin baik pula perilaku swamedikasinya. Ditemukan fenomena knowledge-behavior gap dimana responden dengan pengetahuan baik masih mengindikasi perilaku swamedikasi yang kurang tepat. Simpulan: Terdapat hubungan signifikan diantara tingkat pengetahuan dengan perilaku swamedikasi penggunaan obat analgesik. Peningkatan pengetahuan melalui edukasi kesehatan yang terstruktur dan komprehensif diperlukan untuk meningkatkan praktik swamedikasi yang aman dan rasional di masyarakat.       

Keywords

Analgesik; pengetahuan; perilaku; swamedikasi

pdf

References

  1. 1. World Health Organization (2000). Guidelines for the regulatory assesment of medicinal products for use in self-medication. Geneva : WHO.
  2. 2. Badan pusat statistik (2024). Statistik kesehatan indonesia.
  3. 3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2007). Pedoman penggunaan obat bebas serta obat bebas terbatas.
  4. 4. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI (2007). Farmakologi dan Terapi 5th ed. (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia).
  5. 5. Farida Y, Mardiana, and Setyawan I (2021). faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku swamedikasi obat analgesik pada masyarakat. pharm sci res 8(3), 201–210.
  6. 6. Notoatmojo S (2012). Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan (Rineka cipta).
  7. 7. Melizsa, Novy Romlah S., and Laiman, I. (2022). Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Perilaku Swamedikasi Obat Analgesik, Masyarakat Rw 04 Desa Trembulrejo Blora Periode April Tahun 2021. Jurnal Kesehatan Pharmasi (JKPharm).
  8. 8. Hubungan Tingkat Pengetahuan Pasien terhadap Perilaku Swamedikasi Nyeri yang Rasional di Apotek Harish Farma Kabupaten Sukoharjo, S.K., Tingkat Pengetahuan Pasien Terhadap Perilaku Swamedikasi Nyeri yang Rasional di Apotek Harish Farma Kabupaten Sukoharjo Kusumaningtyas Siwi Artini, H., Ardya, H.C., and Siwi Artini, K. (2020). Korespondensi. INPHARNMED Journal 4, 34–42.
  9. 9. Widayati, A. (2013). Swamedikasi di Kalangan Masyarakat Perkotaan di Kota Yogyakarta Self-Medication among Urban Population in Yogyakarta.
  10. 10. Kementerian kesehatan republik indonesia (2024). Waspadai penyalahgunaan obat bebas dan bebas terbatas. Berita kesehatan.
  11. 11. Etikan, I. (2017). Sampling and Sampling Methods. Biom Biostat Int J 5. https://doi.org/10.15406/bbij.2017.05.00149.
  12. 12. Dahlan MS (2020). Statistik untuk kedokteran dan kesehatan : deskriptif, bivariat, dan multivariat. 7th ed. (Epidemiologi Indonesia).
  13. 13. Anius Amisism, Rante H, and Sirajuddin S (2020). Faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan obat tradisional pada pengobatan sendiri. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 234–242.
  14. 14. Prasetyawan Y, Lestari W, and Budiman A Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku swamedikasi di era digital. Phamarmaceutical sciences and research, 134–145.
  15. 15. Laili, N.R., Rahmawati, and Puspitasari D (2021). Korelasi pengetahuan dan sikap terhadap perilaku swamedikasi obat analgesik . Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, 156–163.
  16. 16. Putri Okkyana D, and Anjani Dwi P (2025). Hubungan tingkat pendidikan dengan pengetahuan swmaedikasi analgesik. Jurnal Farmasi dan Sains, 23–31.
  17. 17. Barzegar N, Tohidi M, and Ghodssi-Ghassemabdi R (2021). Impact of educational level on incident chronic kidney disease during long-term follow-up : A cohort study. Public Health.
  18. 18. Kurniawan B, and Sulaiman E.S (2021). Aplikasi health belief model dalam perilaku penggunaan obat. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia , 67–75.
  19. 19. Handayani S, Rahmawati F, and Gosal V (2022). Reinforcement behavior dalam praktik swamedikasi berulang. Jurnal psikologi kesehatan.
  20. 20. Prasetyo D.W, Rahmawati F, and Pramono D (2021). Knowledge-practice gap dalam penggunaan analgesik : studi fenomenologi. Jurnal manajemen dan pelayanan farmasi, 201–210.

Most read articles by the same author(s)

Similar Articles

21-30 of 114

You may also start an advanced similarity search for this article.