Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer

FAKTOR RISIKO YANG BERKAITAN DENGAN ANEMIA PADA MAHASISWI

Abstract

Female university students remain at risk of anemia, a health condition influenced by iron intake and lifestyle factors. This study aimed to identify risk variables associated with anemia among female university students. A quantitative descriptive approach with a cross-sectional design was employed. Data were collected online using a Google Form questionnaire, with responses obtained from 43 female students. The variables examined included dietary iron intake, iron supplement consumption, anemia-related physical symptoms, sleep patterns, and previous diagnosis of anemia. The findings revealed that 95.4% of respondents had never or rarely consumed iron supplements, 60.5% reported fatigue or weakness, 53.5% experienced headaches or dizziness, 39.5% had difficulty concentrating, and 51.2% slept less than eight hours per night. The results indicate that anemia risk factors remain prevalent among female university students, although only a small proportion of respondents had previously been diagnosed with anemia. This study concludes that poor lifestyle habits and low iron intake are the main factors contributing to the increased risk of anemia among female university students.

Anemia merupakan masalah kesehatan yang masih berisiko terjadi pada mahasiswi dan dapat dipengaruhi oleh pola konsumsi zat besi serta gaya hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan faktor risiko yang berkaitan dengan anemia pada mahasiswi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan secara daring melalui kuesioner Google Form dengan jumlah responden sebanyak 43 mahasiswi. Variabel yang diteliti meliputi konsumsi zat besi dan tablet tambah darah, keluhan fisik yang berkaitan dengan anemia, pola tidur, serta riwayat pernah didiagnosis anemia.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95,4% mahasiswi tidak rutin atau tidak pernah mengonsumsi tablet tambah darah, 60,5% mengalami keluhan lemas atau mudah lelah, 53,5% mengalami pusing atau sakit kepala, dan 39,5% mengalami kesulitan konsentrasi, serta 51,2% memiliki durasi tidur kurang dari 8 jam per hari. Meskipun hanya sebagian kecil responden pernah didiagnosis anemia, temuan ini menunjukkan bahwa faktor risiko anemia masih banyak ditemukan pada mahasiswi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rendahnya konsumsi zat besi dan pola hidup yang kurang sehat berperan penting dalam meningkatkan risiko anemia pada mahasiswi.

Keywords

Anemia, Konsumsi Zat Besi, Pola Tidur, Gaya hidup, Anemia, Iron Intake, Sleep Patterns, Lifestyle

pdf

References

  1. Almatsier, S. (2019). Prinsip dasar ilmu gizi (Edisi revisi). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  2. Briawan, D. (2016). Anemia: Masalah gizi pada remaja wanita. Bogor: IPB Press.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman pencegahan dan penanggulangan anemia pada remaja putri dan wanita usia subur. Jakarta: Direktorat Gizi Masyarakat.
  6. World Health Organization. (2011). Haemoglobin concentrations for the diagnosis of anaemia and assessment of severity. Geneva: World Health Organization.
  7. World Health Organization. (2015). The global prevalence of anaemia in 2011. Geneva: WHO Press.
  8. World Health Organization. (2019). Anaemia in women and adolescent girls. Geneva: World Health Organization.

Similar Articles

11-20 of 148

You may also start an advanced similarity search for this article.