Abstract
Transaksi jual beli adalah unsur yang melekat dalam kehidupan masyarakat, terutama di Indonesia yang mayoritas penduduknya berprofesi di bidang perdagangan. Dalam Islam, aktivitas jual beli diatur secara rinci melalui ketentuan syariah agar terhindar dari praktik riba dan ketidakadilan. Namun, pemahaman masyarakat terhadap berbagai bentuk akad jual beli syariah masih tergolong rendah. Di antara banyaknya akad yang diterapkan di lembaga keuangan syariah, adalah murabahah dan bai’ bitsaman ajil (BBA). Akad murabahah merupakan suatu transaksi jual beli antara penjual dan pembeli, di mana dalam konteks perbankan syariah, pihak yang terlibat adalah bank syariah dan nasabah. Pada mekanisme tersebut, bank syariah pertama-tama membelanjakan barang atau aset yang nasabah butuhkan, lalu menjualnya kembali kepada nasabah dengan harga lebih tinggi daripada harga awal. Selisih harga itulah keuntungan yang sudah disepakati sejak awal akad. Sementara itu, bai’ bitsaman ajil berasal dari kata bai’ (jual beli), tsaman (harga), dan ajil (penangguhan). Ini adalah transaksi jual beli yang mana barang langsung diserahkan, tetapi pelunasan dilakukan belakangan atau dicicil sesuai kesepakatan.
Buying and selling transactions are an integral part of society, especially in Indonesia, where the majority of the population works in trade. In Islam, buying and selling activities are regulated in detail through sharia provisions to avoid usury and injustice. However, public understanding of the various forms of sharia sales contracts is still relatively low. Among the many contracts applied in sharia financial institutions are murabahah and bai’ bitsaman ajil (BBA). A murabahah contract is a sale and purchase transaction between a seller and a buyer, where in the context of sharia banking, the parties involved are a sharia bank and a customer. In this mechanism, the Islamic bank first purchases the goods or assets that the customer needs, then resells them to the customer at a price higher than the initial price. The price difference is the profit that has been agreed upon since the beginning of the contract. Meanwhile, bai’ bitsaman ajil comes from the words bai’ (sale and purchase), tsaman (price), and ajil (deferral). This is a sale and purchase transaction in which the goods are delivered immediately, but payment is made later or in installments as agreed.
References
Afrida, Y. (2016). Analisis pembiayaan Murabahah di perbankan syariah.
Ali, N., Nugroho, A., Lubis, G. T. P., & Warohmah, M. (2025). Analisis Konsep Akad Murabahah dan Ba’i Bidhamanil Ajil dalam Lembaga Keuangan Syariah. Innovative: Journal Of Social Science Research, 5(1),521-2534.
Amalia, D. R. (2008). Analisis Produk Pembiayaan Bai’Bitsaman Ajil (BBA) Pada BMT-MMU Sidogiri Pasuruan (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).
Amri, A. (2019). Denda dalam Bai'Bitsaman Ajil Menurut Fiqih dan Fatwa Dewan Syariah Nasional (Dsn). Jurnal Ekonomi Syariah, Akuntansi, dan Perbankan, 3(1), 56-74.
Husaini, H. (2024). BERBAGAI BENTUK DALAM JUAL BELI: BA’I AL-WAFA, BA’I AL-INAH, BA’I BITSAMAN ‘AJIL, DAN BA’I TAWARRUQ. Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi, 1(2), 87-104.
Ikbal, M., & Chaliddin, C. (2022). Akad Murabahah Dalam Islam. Al-Hiwalah: Journal Syariah Economic Law, 1(2), 143-156.
Taufiqurrohman, A. (2020). Konsep dan Aplikasi Akad Murabahah dalam Lembaga Keuangan Syariah. Al-Fatih: Jurnal Studi Islam, 8(01), 13-32.