KERATON KAIBON: ARSITEKTUR, JEJAK ESTETIKA DAN SPIRITUALITAS DARI MASA LALU
Keywords:
Keraton Kaibon, Arsitektur Akulturasi, Banten Lama, Jawa-Islam-Eropa, Arkeologi KualitatifAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara mendalam sisa-sisa struktur dan elemen arsitektur Keraton Kaibon di Banten Lama. Situs yang didirikan pada tahun 1809 ini merupakan kediaman Ratu Aisyah, ibunda Sultan Muhammad Syafiuddin (Sultan terakhir Kesultanan Banten). Keraton ini mengalami pembongkaran oleh Belanda pada tahun 1832, sehingga hanya menyisakan fondasi dan beberapa struktur gerbang. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan studi kasus, didasarkan pada data wawancara mendalam dengan juru pelihara situs dan tinjauan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun telah dibongkar, Keraton Kaibon menampilkan perpaduan arsitektur yang harmonis antara unsur Jawa-Bali (Gerbang Bentar), Islam (Masjid dan orientasi kiblat), serta Eropa/Kolonial (Gerbang Paduraksa di tengah). Inovasi konstruksi juga ditemukan, seperti penggunaan campuran kapur dari karang laut untuk adukan batu bata sebagai penangkal air asin maritim, dan sistem pendingin ruangan yang menggunakan sirkulasi air (seperti kolam di bawah lantai papan). Secara filosofis, tata ruang keraton ini mencerminkan bakti seorang anak kepada ibunya ("Istana Untuk Bunda"). Upaya pelestarian dilakukan melalui restorasi berbasis data struktur yang tersisa, bukan dari gambar atau lukisan.
Downloads
References
Rifqiawati, Ika, Enggar Utari, and Muhammad Jafar Aulia. “Riwayat Bangunan Bersejarah Sebagai Peninggalan Masa Kesultanan Banten” 13, no. 2 (2023): 145–162.
Mulangkara.Wawancara. 6 November 2025

