PERKAWINAN ADAT BALI SEBAGAI WARISAN BUDAYA DAN IDENTITAS MASYARAKAT HINDU DARI PERSPEKTIF ADAT DAN HUKUM NASIONAL

Authors
  • Marcha Dennya Irawan

    Universitas Bandar Lampung
    Author
  • Zainudin Hasan

    Universitas Bandar Lampung
    Author
Keywords:
perkawinan adat Bali, warisan budaya, identitas masyarakat Hindu, ritual, tradisi., Balinese traditional marriage, cultural heritage, Hindu identity, ritual, tradition. 
Abstract

Perkawinan adat Bali merupakan salah satu tradisi sakral yang tidak hanya berfungsi sebagai ikatan antara dua individu, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya, keagamaan, dan sosial masyarakat Hindu Bali. Prosesi perkawinan ini sarat dengan simbolisme, ritual, dan makna filosofis yang diwariskan turun-temurun sebagai bagian dari warisan budaya takbenda. Dalam pelaksanaannya, perkawinan adat Bali melibatkan berbagai upacara, sepertimepadik, madengen-dengen, hingga mesangi, yang menegaskan pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan Sang Hyang Widhi Wasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peranperkawinan adat Bali dalam menjaga identitas masyarakat Hindu, sekaligus menyorotitantangan yang muncul di tengah modernisasi dan globalisasi. Hasil kajian menunjukkanbahwa tradisi ini berfungsi sebagai media pelestarian nilai-nilai Hindu Bali, memperkuatsolidaritas sosial, serta menjadi representasi identitas kolektif masyarakatnya. Dengandemikian, perkawinan adat Bali tidak hanya sekadar ritual keagamaan, melainkan juga simbol keberlanjutan budaya dan eksistensi masyarakat Hindu Bali dalam menghadapi perubahan zaman.

Balinese traditional marriage is a sacred tradition that not only serves as a bond between two individuals but also reflects the cultural, religious, and social values of the Balinese Hindu community. This wedding ceremony is steeped in symbolism, ritual, and philosophical meaning, passed down through generations as part of the intangible cultural heritage. Balinese traditional marriages involve various ceremonies, such as mepadik (the procession of the ceremony), madengendengen (the procession of the ceremony), and mesangi (the procession of the ceremony), emphasizing the importance of harmony between humans, nature, and Sang Hyang Widhi Wasa (God Almighty). This study aims to examine the role of Balinese traditional marriage in maintaining the identity of the Hindu community while also highlighting the challenges emerging amidst modernization and globalization. The results indicate that this tradition serves as a medium for preserving Balinese Hindu values, strengthening social solidarity, and representing the collective identity of the community. Thus, Balinese traditional marriage is not merely a religious ritual but also a symbol of cultural continuity and the existence of Balinese Hindu society in the face of changing times.

References

Adnyani, Ni Ketut Sari. (2016). Bentuk Perkawinan Matriarki Pada Masyarakat Hindu

Bali Ditinjau Dari Perspektif Hukum Adat Dan Kesetaraan Gender.

Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, Undiksha. E-Journal Undiksha.

Arta I.K.K I. G. A. (2018). Tinjauan Hukum Adat Bali Terhadap Pelaksanaan Perkawinan

Nyeburin.

Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia, Denpasar. E-Journal

Universitas Hindu Indonesia.

Bagus, I Gusti Ngurah. (2005). Kebudayaan Bali: Kajian Antropologi.

Denpasar: Udayana University Press.

Geertz, Clifford. (1980). Negara Teater: Politik Kebudayaan Di Bali.

Jakarta: Pustaka Jaya.

Hadriani, Ni Luh Gede, Srilaksmi, Ni Ketut Tri, & Ariasa Giri, I Made.

(2022). Implementasi Nilai-Nilai Hukum Adat Bali Dalam Masyarakat Multikultur

Di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama Dan Kebudayaan. E-Journal Universitas Hindu

Indonesia.

Hasan, Zainudin. (2025). Hukum Adat. Bandar Lampung: Universitas Bandar Lampung.

Hemamalini, Kadek, & Suhardi, Untung. (2015). Dinamika Perkawinan Adat Bali. Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama Dan Kebudayaan, Jakarta. E-Journal Universitas

Hindu Indonesia.

Manik Wedanti, I Gusti Ayu J., Windia, I Wayan P., & Sudantra, I Ketut.

(2023). Perkawinan Negen Dadua Sebagai Wujud Kesetaraan Gender Dalam

Masyarakat Hukum Adat Bali. Media Kajian Pendidikan, Agama, Sosial Dan Budaya.

Mantra, Ida Bagus. (1996). Agama Hindu Dan Masyarakat Bali.Denpasar: Yayasan Dharma Naradha.

Mutiarany, & Putu Ayu Leni Agustini. (2021). Sudhi Wadani Dalam Perkawinan Hukum

Adat Bali. Justice Voice. Universitas Krisnadwipayana. E-Journal Hukum Uki.

Paramartha, I Made Arya, & Mahadewi, Kadek Julia. (2023). Perspektif Hukum Perkawinan Pada Gelahang Di Bali. Jurnal Kewarganegaraan. Universitas Pendidikan Nasional.

Putra, I Bagus. (2021). Perkawinan Adat Bali Sebagai Identitas Budaya Hindu Di Era

Globalisasi. Jurnal Kajian Bali. Universitas Udayana.

Setiati Widihastuti, Iffah Nurhayati, Puji Wulandari, & Chandra Puspitasar.

(2024). Pergeseran Adat Perkawinan Pada Masyarakat Bali Perantauan Di Diy.

Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi. Universitas Negeri Yogyakarta.

Sinthop Arta, I Ketut K., Sumertajaya, I Ketut S. W., & Sena, I Gusti A. W.

(2025). Perkawinan Dalam Perspektif Hukum Adat Bali. Jurnal Yustitia. Universitas

Ngurah Rai. Tersedia Pada: Https://Ojs.Unr.Ac.Id/Index.Php/Yustitia/Article/View/1460

Sukerti, Ni Nyoman, & Ariani, I Gusti Ayu A. A. (2019). Budaya Hukum Masyarakat Adat

Bali Terhadap Eksistensi Perkawinan Beda Wangsa. Jurnal Magister Hukum

Udayana, 8(3), 357–372. Tersedia

Pada: Https://Ojs.Unud.Ac.Id/Index.Php/Jmhu/Article/View/44183

Cover Image
Downloads
Published
2025-10-30
Section
Articles

How to Cite

PERKAWINAN ADAT BALI SEBAGAI WARISAN BUDAYA DAN IDENTITAS MASYARAKAT HINDU DARI PERSPEKTIF ADAT DAN HUKUM NASIONAL. (2025). Causa: Jurnal Hukum Dan Kewarganegaraan, 15(12), 611-620. https://cibjournal.com/index.php/causa/article/view/874

Most read articles by the same author(s)

1 2 > >> 

Similar Articles

11-20 of 436

You may also start an advanced similarity search for this article.