Abstract
Penggunaan insektisida kimia oleh petani sering menimbulkan dampak negatif karena meninggalkan residu berbahaya bagi kesehatan lingkungan sekitar. Salah satu cara untuk menguranginya adalah dengan menggunakan insektisida nabati dari buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) yang mengandung senyawa aktif saponin, alkaloid, flavonoid, terpenoid, dan tanin yang bersifat toksik pada hama wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal.) yang menyerang tanaman padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan produk BIOWERENG dari ekstrak buah mengkudu sebagai insektisida nabati dalam membasmi hama wereng coklat pada tanaman padi dan untuk mengetahui efektivitas produk BIOWERENG pada pengenceran yang berbeda terhadap waktu kematian hama wereng coklat pada tanaman padi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data yaitu eksperimen fermentasi menggunakan buah mengkudu \dan uji toksinitas insektisida pada 10 wereng coklat pada dosis yang berbeda untuk memastikan kualitas toksinitas insektisida. Teknis analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menguraikan proses pembuatan BIOWERENG. serta membandingkan kualitas toksinitas insektisida pada dosis yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk BIOWERENG dari ekstrak buah mengkudu yang dapat diolah menjadi insektisida nabati, dengan tahapan 3 liter air kelapa, 3 liter air cucian beras, 100 gram kulit bawang merah, 120 ml molase, dan 120 ml EM4 selama 24 jam, kemudian ditambahkan lagi 2 kg buah mengkudu yang telah dipotong kecil lalu ditutup rapat dan difermentasi kembali selama 5 minggu. Hasil penelitian menunjukkan Produk BIOWERENG dengan dosis pengenceran 1:10 (1400 ml/16 liter air) mampu membunuh wereng coklat mulai menit ke-2 sampai menit ke- 7 sedangkan pada dosis pengenceran 1:20 (700 ml/16 liter air) mampu membunuh hama wereng mulai menit ke-7 sampai menit ke-21. Kesimpulannya adalah produk BIOWERENG dengan dosis pengenceran 1:10 lebih efektif membunuh hama wereng coklat dibandingkan dengan dosis pengenceran 1:20. Penggunaan rutin mampu membasmi populasi wereng coklat dan membantu meningkatkan hasil panen padi.
References
Glio, M. T. (2015). Pupuk Organik & Pestisida Nabati Ala Tosin Glio. AgroMedia.
Hidayati, R., & Prasetyo, B. (2022). Efektivitas ekstrak mengkudu sebagai insektisida nabati terhadap hama penghisap pada tanaman pangan. Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan, 10(1), 33-40.
Mumtazah, F. A. (2023). Analisis Efektivitas Larva Black Solider Fly (Hermetia Illucens) dalam Penguraian Sampah Sayur Dengan Penambahan Molase Dan Em4
Prajawahyudo, T., Asiaka, F. K., & Ludang, E. (2022). Peranan keamanan pestisida di bidang pertanian bagi petani dan lingkungan. J-SEA (Journal Socio Economic Agricultural), 17(1), 1-9.
Setyawaty, R., Ismunandar, A., & Ngaeni, N. Q. (2014, December). Identifikasi senyawa antrakuinon pada daun mengkudu (Morinda citrifolia L) menggunakan kromatografi lapis tipis. In Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian dan Pengabdian. Purwokerto, Indonesia: LPPM UMP.
Sijabat, E. V. B., Medy, R. L., & Wiguna, R. R. (2025). Pengurangan Dampak Lingkungan Melalui Penggunaan Pestisida Nabati di Desa Muaro Pijoan Kabupaten Muaro Jambi. BangDimas Jurnal Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat, 4(1), 58- 68.
Siregar, F. A. (2023). Pengaruh Penggunaan Pestisida Nabati Dalam Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman.
Tando, E., & Murni, W. (2020, January). Inovasi Teknologi Pemanfaatan Senyawa Metabolit Sekunder Mengkudu sebagai Pestisida Nabati pada Tanaman Pangan dan Hortikultura. In Prosiding Seminar Nasional Biologi-Jurusan Biologi FMIPA UHO 2019: Eksplorasi dan Pemanfaatan Biodiversitas dalam Menunjang Pembangunan Nasional Berkelanjutan (p. 89). Universitas Halu Oleo Press. Nusantara, 12(1). 15-22.