Makna Religius dan Sosial dalam Pelaksanaan Adat dan Tradisi sebagai Bentuk Akulturasi Islam dan Budaya di Mojopuro
Keywords:
Islam, budaya, akulturasi, adat dan tradisi, Mojopuro , Islam, culture, acculturation, tradition, Mojopuro.Abstract
Penelitian ini membahas proses akulturasi antara adat Jawa dan ajaran Islam yang terjadi di Desa Mojopuro, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Wonogiri. Akulturasi tersebut merupakan bentuk pertemuan antara dua sistem nilai, yakni nilai keislaman dan nilai tradisional Jawa yang menghasilkan perpaduan harmonis tanpa menghilangkan jati diri budaya lokal. Proses ini terlihat jelas dalam tradisi kondangan, sebuah ritual sosial keagamaan yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Mojopuro. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai acara seremonial dalam rangkaian hajatan, seperti pernikahan dan khitanan, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat solidaritas sosial, rasa syukur, serta penghormatan terhadap leluhur.Tradisi seperti ritual kondangan menjadi contoh konkret dari pelestarian budaya yang tetap berlandaskan nilai-nilai Islam. Dalam setiap pelaksanaannya, masyarakat Mojopuro menunjukkan prinsip tasamuh (toleransi) dan rasa hormat terhadap leluhur tanpa mengesampingkan keimanan kepada Allah SWT. Masyarakat menilai bahwa menjaga tradisi merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus wujud syukur atas nikmat Tuhan. Melalui perpaduan ini, kehidupan sosial masyarakat Mojopuro tetap rukun dan damai di tengah arus modernisasi.
This study explores the process of acculturation between Javanese customs and Islamic teachings in Mojopuro Village, Jatiroto District, Wonogiri Regency. This acculturation represents the encounter between two value systems—Islamic and traditional Javanese—which blend harmoniously without erasing the identity of local culture. The process is most evident in the kondangan tradition, a socio-religious ritual that has become an essential part of the community life in Mojopuro. This tradition functions not only as a ceremonial event during festivities such as weddings or circumcisions but also as a means to strengthen social solidarity, express gratitude, and honor ancestors. The kondangan ritual exemplifies how cultural preservation can coexist with Islamic values. In every practice, the people of Mojopuro demonstrate the principles of tasamuh (tolerance) and respect for their ancestors while maintaining their faith in Allah SWT. For the community, preserving tradition is both an act of honoring their heritage and an expression of gratitude for God’s blessings. Through this harmonious integration, the social life of Mojopuro’s community remains peaceful and united amid the tides of modernization.
Downloads
References
Abdullah, Irwan. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.
Fauzan. Akulturasi Islam dan Budaya Jawa: Kajian Pada Ritual “Pengesahan” Warga Baru Persaudaraan Setia Hati Terate. Kalam: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, 6(1), 105–124.(2012)
Geertz, Clifford. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya, 1983.
Haryono, Agus. Islam dan Tradisi Jawa: Wujud Akulturasi dalam Upacara Adat Masyarakat Jawa. Yogyakarta: Deepublish, 2018.
Karim, Abdul. Islam dan Tradisi Nusantara: Kajian Sosiologis Budaya di Indonesia. Yogyakarta: Arti Bumi Intaran. 2020.
Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Simuh. Islam dan Pergumulan Budaya Jawa. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1996.
Rizqi, Wahyu. “Pendekatan Kultural dalam Dakwah Walisongo.” Jurnal Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam, 8(1), 15–26. (2021).
Solikhah, Amirotun. “Statistik Deskriptif Dalam Penelitian Kualitatif”. KOMUNIKA, 10 (2): 342-362. (2016)
Yuliani, Wiwin. “METODE PENELITIAN DESKRIPTIF KUALITATIF DALAM PERSPEKTIFBIMBINGAN DAN KONSELING”. QUANTA 2(2): 83-91. (2018).

