Published 2026-01-05
Keywords
- Akuntabilitas Sosial,
- Counter-Accounting,
- Relasi Kekuasaan,
- Akuntansi Kritis,
- Emansipasi
How to Cite
Abstract
Akuntansi sering dipahami sebagai alat teknis yang bersifat netral, padahal dalam praktiknya beroperasi dalam relasi kekuasaan yang kompleks dan kerap meminggirkan kelompok sosial tertentu. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana paradigma kritis dalam akuntansi berfungsi sebagai instrumen emansipatoris yang mampu mengungkap serta menantang praktik dominasi dalam akuntansi kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui systematic literature review terhadap publikasi ilmiah periode 2020–2025 yang membahas akuntansi kritis, relasi kekuasaan, dan praktik emansipatoris. Hasil kajian menunjukkan bahwa akuntansi merupakan praktik sosial-politik yang tidak bebas nilai dan sering kali mereproduksi kepentingan aktor dominan melalui mekanisme pelaporan formal yang tampak objektif. Namun demikian, paradigma akuntansi kritis membuka ruang bagi praktik emansipatoris, seperti counter-accounting dan pelaporan partisipatif, yang memungkinkan komunitas terdampak untuk terlibat secara aktif dalam proses akuntansi. Studi ini menegaskan pentingnya pengembangan praktik akuntansi yang lebih inklusif, reflektif, dan berorientasi pada keadilan sosial.
Downloads
References
- [1] J. Bebbington, C. Larrinaga, and J. Unerman, “Social and environmental accounting and reporting: What is the question?,” Account. Audit. Account. J., vol. 27, no. 2, pp. 195–219, 2014, doi: 10.1108/AAAJ-03-2013-1260.
- [2] J. Brown and J. Dillard, “Agonistic pluralism and accounting for social and environmental change,” Account. Audit. Account. J., vol. 28, no. 3, pp. 317–342, 2015, doi: 10.1108/AAAJ-05-2013-1341.
- [3] E. Chiapello, “Critical accounting in the age of neoliberalism,” Account. Organ. Soc., vol. 96, p. 101273, 2021, doi: 10.1016/j.aos.2021.101273.
- [4] C. Cooper and T. Hopper, “Critical accounting research,” in The Routledge Companion to Accounting Theory, London: Routledge, pp. 259–276, 2020.
- [5] J. Dillard and R. Roslender, “The emancipatory potential of critical accounting: Contemporary challenges and future directions,” Crit. Perspect. Account., vol. 79, p. 102249, 2022, doi: 10.1016/j.cpa.2021.102249.
- [6] R. Gray, “Taking a long view on what we now know about social and environmental accountability and reporting,” Issues Soc. Environ. Account., vol. 4, no. 2, pp. 169–198, 2010.
- [7] A. Kamayanti and N. Q. Lutfillah, “Storytelling as an alternative of teaching (critical) accounting theory,” J. Akunt. Multiparadigma, vol. 13, no. 1, pp. 164–179, 2022, doi: 10.21776/ub.jamal.2022.13.1.12.
- [8] M. Masyhuri and T. E. Prastiwi, “Analisis realitas sustainability pada Global Reporting Initiative (GRI) berdasarkan perspektif critical accounting study,” J. Akunt. Keuang. Syariah, vol. 3, no. 1, pp. 1–15, 2023.
- [9] R. Laughlin, “Critical reflections on research approaches, accounting regulation and the regulation of accounting,” Br. Account. Rev., vol. 43, no. 1, pp. 1–16, 2011, doi: 10.1016/j.bar.2010.10.004.
- [10] P. Sikka, “Accounting and social justice: Political economy perspectives,” Account. Forum, vol. 45, no. 4, pp. 455–470, 2021, doi: 10.1080/01559982.2021.1940125.
- [11] L. N. Tarigan, A. Fachturian, K. A. Savitry, E. B. Putriadi, and L. Fitri, “Perkembangan teori akuntansi dalam arus globalisasi: Perspektif kritis,” J. Akad. Ekon. Manaj., vol. 2, no. 2, pp. 45–58, 2023.
- [12] U. U. Weruin and T. Sudirgo, “Akuntansi emansipatoris: Analisis kritis terhadap peran dan praktik akuntansi dalam ekonomi kapitalis,” Innovative: J. Soc. Sci. Res., vol. 4, no. 4, pp. 9369–9386, 2024, doi: 10.31004/innovative.v4i4.10245.
- [13] L. P. Widianingsih, “Pendidikan dialogis nan membebaskan: Kajian bagi pendidikan akuntansi (kritis),” J. Pendidik. Akunt. Keuang., vol. 9, no. 2, pp. 113–126, 2021, doi: 10.17509/jpak.v9i2.38421.