Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer

Volume 5, No. 2Panorama: Jurnal Kajian Pariwisata, ISSN 3031-5085

Published November 1, 2025

Issue description

Panorama: Jurnal Kajian Pariwisata adalah jurnal pariwisata yang diterbitkan oleh Cahaya Ilmu Bangsa Institute. Jurnal ini terbit 3 Kali dalam setahun. Jurnal ini mengkaji bidang kepariwisataan baik nasional maupun global. Jurnal ini membuka kesempatan menulis bagi para praktisi dan akademisi dalam mengisi jurnal guna menambah khasanah bidang Kepariwisataan. Jurnal ini dikelola bekerja sama dengan akademisi dan praktisi  ahli terutama bidang kepariwisataan. Jurnal ini menerima hasil penelitian, kajian pustaka, maupun hasil diskusi atau FGD ilmiah. Tujuan dari penerbian ini selain mengembangkan kepariwisaataan dari sesi ilmiah, juga menambah khasanah ke dunia internasional tentang pesona panorama Indonesia. Jurnal ini selain menerima artikel berbahasa Indonesia, juga menerima artikel berbahasa Inggris. Penerbit berharap jurnal ini menjadi wadah dan saksi bagi perkembangan dunia pariwisata di Indonesia

Articles

  1. ANALISIS PERAN HOUSEKEEPING DEPARTMENT DALAM MENINGKATKAN HUNIAN KAMAR DI R HOTEL RANCAMAYA BOGOR

    Tourism in Indonesia is one of the sectors of activities related to travel and tourism which plays a very important role in supporting the Indonesian economy. Bogor City has tight competition between 4-star and 5-star hotels, one of which is R Hotel Rancamaya Bogor which has a total of 223 rooms with an occupancy rate of 78% and an occupancy rate of 65% of 140 rooms. Housekeeping plays a role in maintaining quality To increase room sales. The purpose of this study was to find out what guest complaints are and how to handle them, and to find out the role of the housekeeping department in increasing occupancy. The research method used is descriptive research with a qualitative approach. Researchers collected data through interviews, observations, questionnaires, and literature studies. The results of the study concluded that hotel staff, especially housekeeping, often receive complaints from guests who stay. This certainly affects guest satisfaction. One example of a complaint is about housekeeping staff who are less friendly and housekeeping staff are less responsive to guest requests. to return, but respond quickly in handling complaints, and do One way to minimize complaints, the hotel can hold training or training for housekeeping department staff. With training, the performance of housekeeping staff can be maximized and also more professional in their field.

  2. SINERGI KEBIJAKAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF DALAM MENDORONG PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH DI YOGYAKARTA

    Penelitian ini menganalisis sinergi kebijakan pariwisata dan ekonomi kreatif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta. Latar belakang penelitian didasarkan pada meningkatnya kontribusi kedua sektor tersebut terhadap PDRB daerah serta pentingnya integrasi kebijakan lintas sektor untuk memperkuat nilai tambah ekonomi berbasis budaya. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan menelaah 30 sumber terpercaya berupa 20 jurnal ilmiah dan 10 dokumen resmi. Proses SLR mencakup identifikasi literatur, screening, evaluasi kelayakan, ekstraksi data, dan analisis tematik untuk memperoleh temuan yang sistematis dan komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinergi kebijakan pariwisata–ekraf mampu meningkatkan daya saing destinasi, memperluas kinerja UMKM kreatif, dan memperkuat sektor jasa sebagai penggerak utama perekonomian DIY. Efektivitas sinergi ini diperkuat oleh kebijakan daerah yang terarah, ekosistem kreatif yang aktif, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan. Namun demikian, tantangan seperti ketimpangan kapasitas SDM, keterbatasan promosi terpadu, dan ketergantungan pada event musiman tetap memerlukan perhatian. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi kebijakan lintas sektor merupakan strategi penting dalam memperkuat pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan, berbasis budaya, dan didukung kreativitas lokal.

  3. PELAKSANAAN PERPRES NO. 63 TAHUN 2014 TENTANG PENGAWASAN KEPARIWISATAAN PADA PENGELOLAAN KAWASAN WISATA LABUAN BAJO

    Penelitian ini menganalisis pelaksanaan Perpres No. 63 Tahun 2014 tentang Pengawasan Kepariwisataan pada pengelolaan kawasan wisata Labuan Bajo melalui studi literatur sistematis terhadap 20 jurnal terpilih. Hasil telaah menunjukkan bahwa meskipun Perpres telah menyediakan kerangka hukum yang jelas, implementasi pengawasan belum optimal karena lemahnya koordinasi antarinstansi, keterbatasan kapasitas pelaksana, belum tersedianya pedoman teknis yang memadai, serta adanya tekanan ekologis di kawasan Taman Nasional Komodo dan pesisir. Pengawasan yang dilakukan masih bersifat parsial dan belum sepenuhnya berbasis prinsip keberlanjutan, sehingga menimbulkan kesenjangan antara standar kebijakan dan praktik di lapangan. Penelitian ini menegaskan perlunya penguatan tata kelola multipihak, integrasi mekanisme pengawasan, dan penerapan pengawasan berbasis konservasi untuk memastikan pengembangan pariwisata Labuan Bajo tetap aman dan berkelanjutan.

  4. PERAN KEBIJAKAN PUBLIK TERHADAP INTEGRASI SEKTOR PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF DI KOTA BANDUNG

    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi kebijakan publik Pemerintah Kota Bandung dalam menggabungkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai langkah untuk mencapai pembangunan kota yang berkelanjutan. Kota Bandung memiliki potensi signifikan dalam bidang ekonomi kreatif, melalui industri fesyen, kuliner, seni, dan berbagai komunitas kreatif yang tumbuh dengan cepat. Oleh karena itu, penggabungan kedua sektor ini menjadi strategi utama untuk meningkatkan daya tarik pariwisata serta memperkuat perekonomian daerah. Penelitian ini menerapkan metode Tinjauan Literatur Sistematis (TLS) dengan menganalisis artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2025 yang berkaitan dengan topik pariwisata, ekonomi kreatif, dan kebijakan publik. Temuan dari penelitian menunjukkan bahwa pemerintah memainkan peran penting dalam penyediaan infrastruktur yang mendukung, pelatihan dan sertifikasi untuk para pelaku kreatif, penguatan promosi digital sebagai pola pengelolaan. Penggabungan pariwisata dan ekonomi kreatif terlihat melalui pelaksanaan program wisata yang fokus pada kreativitas, seperti lokakarya seni, pertunjukan budaya, serta aktivitas UMKM kreatif yang menawarkan pengalaman interaktif bagi para wisatawan. Dampak dari integrasi ini mencakup peningkatan pendapatan warga, terbukanya peluang bisnis baru, penguatan kemampuan komunitas, serta terbentuknya reputasi Kota Bandung sebagai kota yang kreatif. Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan publik yang dapat beradaptasi, bersifat kolaboratif, dan fokus pada pemberdayaan masyarakat adalah hal utama untuk memperkuat integrasi antara kedua sektor serta mendukung pengembangan kota yang berkelanjutan.

  5. PENDEKATAN COMMUNITY-BASED TOURISM DALAM MELESTARIKAN BUDAYA DAN ALAM DI NUSA TENGGARA TIMUR

    Penelitian ini mengkaji bagaimana pendekatan Community-Based Tourism (CBT) berkontribusi dalam pelestarian budaya dan perlindungan lingkungan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui studi literatur terhadap 20 artikel terbitan 2021–2025, penelitian ini menyoroti peran partisipasi masyarakat, kelembagaan lokal, dan dukungan kebijakan dalam pengelolaan pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CBT mampu memperkuat pelestarian budaya melalui keterlibatan masyarakat serta mendukung keberlanjutan lingkungan melalui praktik konservasi. Namun, keterbatasan infrastruktur, rendahnya kapasitas, dan kurangnya promosi masih menjadi hambatan. Penelitian menyimpulkan bahwa CBT efektif, tetapi membutuhkan peningkatan kapasitas masyarakat dan dukungan kebijakan yang konsisten.

  6. TANTANGAN DAN ARAH PENGUATAN REGULASI PARIWISATA HALAL DI NUSA TENGGARA BARAT

    Pariwisata halal di Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki potensi strategis sebagai destinasi ramah Muslim dengan regulasi daerah yang jelas. Implementasi regulasi menghadapi tantangan, seperti ketidaksinkronan standar halal, rendahnya sertifikasi usaha, dan koordinasi antar-pemangku kepentingan yang lemah. Kesenjangan antara kebijakan dan praktik layanan halal terjadi pada fasilitas dan pemahaman pelaku usaha. Penelitian menggunakan kajian literatur dan analisis kebijakan terhadap dokumen dan studi empiris. Rekomendasi berfokus pada penguatan regulasi teknis, pendampingan sertifikasi untuk UMKM, peningkatan koordinasi kelembagaan, dan sosialisasi kepada masyarakat lokal. Tujuannya mewujudkan pariwisata halal inklusif, berkelanjutan, dan meningkatkan daya saing daerah.

  7. MENINGKATKAN PERAN EKONOMI KREATIF SEKTOR KULINER DALAM MENDUKUNG DAYA TARIK PARIWISATA DI KOTA YOGYAKARTA

    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran ekonomi kreatif sektor kuliner dalam mendukung daya tarik pariwisata di Kota Yogyakarta. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik purposive sampling untuk memilih informan yang terdiri dari pejabat pemerintah daerah, pelaku usaha kuliner, dan perwakilan komunitas. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, analisis dokumen, dan observasi, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekonomi kreatif kuliner memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan daya tarik pariwisata melalui inovasi produk, pemasaran digital, dan pemberdayaan komunitas. Namun, terdapat tantangan berupa kurangnya koordinasi antar pemangku kepentingan dan infrastruktur yang belum memadai. Rekomendasi penelitian adalah meningkatkan kolaborasi multipihak dan pelaksanaan kebijakan terintegrasi untuk mendukung keberlanjutan sektor pariwisata kuliner.

  8. SITUS MENHIR MAEK SEBAGAI LIVING MEGALITHIC HERITAGE DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA DI SUMATERA BARAT

    Studi ini mengkaji potensi situs menhir maek di nagari maek, kabupaten lima puluh kota, Sumatra Barat sebagai destinasi wisata warisan megalitik hidup. Tidak seperti kebanyakan situs megalitik di Indonesia yang telah menjadi peninggalan arkeologi, menhir maek tetap aktif digunakan dalam upacara adat Minangkabau. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan para pemimpin adat dan masyarakat lokal, dan studi dokumentasi, penelitiann ini mengungkapkan bahwa situs tersebut memiliki potensi yang signifikan untuk pengembangan wisata warisan budaya. Keunikan tradisi megalitik hidup yang terintegrasi dengan sistem sosial Minangkabau memberikan keunggulan kompetitif yang kuat. Namun, pengembangan menghadapi tantangan termasuk aksesibilitas yang terbatas, infrastruktur yang minim, dan kebutuhan untuk menyeimbangkan kepentingan komersial dengan pelestarian nilai-nilai sakral. Strategi yang direkomendasikan mengadopsi pendekatan pariwisata berbasis masyarakat (CBT) yang menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama dan penerima manfaat langsung. Strategi utama meliputi peningkatan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, implementasi manajemen kelembagaan, dan penguatan peraturan. Penelitiann ini berkontribusi pada pengembangan wisata warisan budaya berkelanjutan dan pelestarian tradisi megalitik Minangkabau.

  9. ANALISIS KEBIJAKAN PARIWISATA BERKELANJUTAN DALAM PERSPEKTIF SDGS: KAJIAN LITERATUR KEBIJAKAN PARIWISATA DI INDONESIA 2019–2025

    Pariwisata Indonesia mengalami pertumbuhan pesat namun diiringi tekanan sosial-ekologis, menegaskan perlunya pergeseran menuju pariwisata berkelanjutan. Tujuan studi ini adalah untuk mengkaji bagaimana strategi pariwisata berkelanjutan Indonesia dikembangkan untuk membantu mencapai SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) antara tahun 2019 dan 2025. Studi ini mengkaji laporan pemerintah, dokumen kebijakan, dan publikasi ilmiah relevan menggunakan metodologi kualitatif deskriptif dan metode tinjauan pustaka. Hasil menunjukkan bahwa implementasi SDG 8 lebih menonjol dalam penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan UMKM, namun dihadapkan pada tantangan kualitas pekerjaan seperti informalitas dan minimnya jaminan sosial. Sementara itu, implementasi SDG 12 menemui kendala lebih signifikan, terutama terkait pengelolaan limbah makanan, sampah plastik, dan pengelolaan sumber daya di destinasi wisata. Secara keseluruhan, meskipun kerangka regulasi seperti Permenparekraf No. 9 Tahun 2021 telah terbentuk, implementasi di tingkat operasional belum optimal. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pengembangan indikator yang lebih operasional, peningkatan kapasitas pemerintah daerah, dan penguatan kolaborasi multi-pihak untuk mewujudkan pariwisata yang benar-benar berkelanjutan.

  10. PENGEMBANGAN MODEL PARIWISATA SEC-BEACH (SMART ECO-CULTURAL BEACH): STUDI PADA PASAR MALAM PESISIR BERBASIS KOMUNITAS DI PANTAI SEBALANG, LAMPUNG SELATAN

    Penelitian ini bertujuan merumuskan Model Pariwisata SEC-Beach (Smart Eco-Cultural Beach) sebagai rencana model baru pengembangan pariwisata pesisir berbasis komunitas di Pantai Sebalang, Lampung Selatan. Model ini dikembangkan karena kawasan Sebalang menunjukkan potensi besar melalui pertumbuhan wisatawan yang melampaui 100% dalam satu tahun serta aktivitas 80–100 pedagang yang beroperasi secara organik. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan literature review sistematis untuk menelaah teori dan data terkait smart tourism, eco-tourism, dan cultural tourism. Hasil analisis menghasilkan tiga pilar utama: Smart Tourism melalui pembayaran digital dan pemetaan data transaksi pedagang; Eco-Tourism melalui program tukar sampah menjadi e-money dan insentif Green Vendor; serta Cultural Tourism melalui Koridor Budaya Lampung yang menghadirkan kuliner, seni, dan narasi lokal. Validasi awal melalui FGD menunjukkan penerimaan positif dari pedagang, komunitas, dan akademisi, meskipun masih terdapat hambatan seperti literasi digital rendah, belum adanya regulasi formal, dan lemahnya sistem pengelolaan sampah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rencana model baru SEC-Beach layak diimplementasikan secara bertahap dan berpotensi menjadi acuan bagi pengembangan pariwisata pesisir berbasis komunitas di Indonesia.

  11. THE ROLE OF SOCIAL MEDIA IN BUILDING INTEREST IN HERITAGE TOURISM IN SAWAHLUNTO

    This study examines the influence of social media in fostering interest in heritage tourism in Sawahlunto City. As one of the historical cities in West Sumatra, Sawahlunto holds significant cultural and historical value through its coal mining legacy, colonial architecture, and the social life of its people that still reflects traces of the past. In the modern era, the appeal of heritage tourism no longer depends solely on physical preservation but also on effective communication and promotional strategies. In this context, social media plays an essential role as a contemporary medium to introduce heritage tourism potential to a wider audience. Through platforms such as Instagram, Facebook, TikTok, and YouTube, various visual and narrative contents about Sawahlunto have successfully attracted public attention and stimulated curiosity about its history. This research applies a descriptive qualitative method through literature review and observation of digital content. The analysis reveals that social media significantly influences the development of positive perceptions of heritage destinations, strengthens local cultural identity, and increases community engagement in tourism promotion activities. Furthermore, social media serves as a participatory space that enables collaboration among local governments, communities, and younger generations to preserve and promote Sawahlunto’s heritage identity on both national and international levels

  12. CHARACTERISTICS OF ART CAMPUS AS A CULTURAL LEARNING SPACE FOR TOURISM STUDENTS

     

    This study examines how the learning environment of an art-based university shapes the cultural understanding and competencies of students in the Tourism Study Program. Existing research has widely discussed cultural tourism and cultural literacy, yet few studies explore how daily exposure to artistic practices functions as an experiential learning space for tourism students. Using a qualitative approach, data were collected through observation and in-depth interviews with tourism students who interact directly with artistic activities. The findings indicate that art campuses create a unique cultural ecology where students learn cultural values not solely through theory but through embodied experiences such as witnessing rehearsals, engaging in informal conversations with art students, and participating in campus cultural events. These experiences foster cultural sensitivity, interpretive skills, and ethical awareness that support the development of culturally responsible tourism practices. This study contributes to the discourse on tourism education by demonstrating that art-based learning environments play a strategic role in strengthening cultural competencies among future tourism practitioners.