ADMINISTRASI DAN SUPERVISI MITIGASI INTOLERANSI: KURIKULUM BERBASIS CINTA PADA MADRASAH IBTIDAIYAH

Authors
  • Citra Aulia Maharani

    UIN Raden Fatah Palembang, Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan
    Author
  • Harisa Khadafiah

    UIN Raden Fatah Palembang, Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan
    Author
  • Ahmad Zainuri

    UIN Raden Fatah Palembang, Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan
    Author
  • Frika Fatimah Zahra

    UIN Raden Fatah Palembang, Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan
    Author
Keywords:
dministrasi Pendidikan, Supervisi Pendidik, Educational Administration, Educational Supervision, Intolerance, Love-Based Curriculum, Madrasah Ibtidaiyah.
Abstract

Fenomena intoleransi pada peserta didik usia sekolah dasar semakin mengkhawatirkan karena mulai tampak dalam berbagai bentuk perilaku, seperti sikap diskriminatif terhadap teman yang berbeda latar belakang, ejekan bernuansa religius, pengucilan terhadap siswa minoritas, hingga penolakan terhadap perbedaan budaya dalam aktivitas pembelajaran. Pada tahap usia Madrasah Ibtidaiyah, peserta didik berada dalam masa pembentukan karakter yang sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan, baik dari keluarga, media, maupun interaksi sosial di sekolah. Jika tidak ditangani dengan tepat, bibit-bibit intoleransi yang muncul pada usia dini dapat berkembang menjadi pola pikir eksklusif, fanatik, bahkan agresif pada jenjang pendidikan berikutnya. Dalam konteks inilah Madrasah Ibtidaiyah sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki tanggung jawab strategis untuk melahirkan ekosistem pembelajaran yang tidak hanya menanamkan nilai keagamaan, tetapi juga menumbuhkan sikap kasih sayang, penghargaan terhadap keberagaman, serta kemampuan hidup berdampingan secara damai. Pendidikan Islam sejatinya mengajarkan prinsip rahmatan lil ‘alamin, yaitu nilai-nilai kasih sayang universal yang menjadi landasan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Oleh karena itu, madrasah tidak cukup hanya menyampaikan materi secara kognitif, tetapi harus mengembangkan tata kelola pendidikan yang mampu mencegah berkembangnya sikap intoleran dalam diri siswa.

Artikel ini mengkaji secara komprehensif bagaimana administrasi dan supervisi pendidikan dapat berperan dalam mitigasi intoleransi melalui penerapan kurikulum berbasis cinta (curriculum of love). Pendekatan ini menekankan bahwa pembelajaran harus dibangun di atas nilai-nilai rahmah, empati, saling menghargai, serta penguatan karakter spiritual sebagai pondasi utama pendidikan Islam. Dalam kerangka administrasi madrasah, diperlukan kebijakan, program, prosedur, dan tata kelola yang secara sadar dirancang untuk menciptakan budaya inklusif. Hal ini mencakup penyusunan peraturan anti-diskriminasi, pengembangan budaya sekolah yang ramah perbedaan, serta penyediaan program pembiasaan seperti kegiatan kolaboratif, forum dialog, dan aktivitas yang menumbuhkan solidaritas sosial antar siswa. Sementara itu, supervisi pendidikan memiliki peran penting dalam memastikan bahwa penerapan kurikulum cinta tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi benar-benar terimplementasi dalam proses pembelajaran. Melalui pendampingan, observasi kelas, dan evaluasi konstruktif, supervisor membantu guru mengembangkan praktik pembelajaran yang toleran, dialogis, dan bebas dari kekerasan simbolik. Supervisi yang humanis mendorong guru untuk menjadi figur teladan yang mempraktikkan kasih sayang, menghindari stereotip negatif, dan mengajarkan perbedaan sebagai rahmat, bukan ancaman.

Integrasi kurikulum berbasis cinta ke dalam kegiatan belajar mengajar dirancang untuk menumbuhkan rasa empati, sikap menghargai perbedaan, kemampuan memecahkan konflik secara damai, serta kesadaran spiritual yang mendalam pada diri peserta didik. Kurikulum ini bukan hanya mengajarkan konten, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang membentuk kepekaan emosional dan moral siswa. Dengan demikian, artikel ini menyimpulkan bahwa mitigasi intoleransi pada siswa Madrasah Ibtidaiyah tidak dapat dicapai melalui materi pelajaran saja, melainkan harus dibangun melalui sistem administrasi yang humanis, supervisi pendidikan yang membina dengan kasih sayang, serta kurikulum yang menempatkan cinta sebagai ruh utama pendidikan Islam. Pendekatan holistik inilah yang diyakini mampu melahirkan generasi muslim yang berakhlak mulia, toleran, dan siap hidup dalam masyarakat yang plural.

The phenomenon of intolerance among elementary school students has become increasingly alarming, as it appears in various forms such as discriminatory behavior, religiously charged mockery, exclusion of minority peers, and rejection of cultural differences within the learning environment. At the Madrasah Ibtidaiyah level, students are in a critical stage of character formation and remain highly susceptible to environmental influences from family, media, and peer interactions. If left unaddressed, early signs of intolerance may develop into exclusive, fanatical, and even aggressive attitudes in later stages of education. In this context, Madrasah Ibtidaiyah—as an Islamic educational institution—holds a strategic responsibility to create a learning ecosystem that not only instills religious knowledge but also nurtures compassion, appreciation for diversity, and the ability to coexist peacefully. Islamic education fundamentally promotes rahmatan lil ‘alamin, a principle of universal compassion that guides human relationships with God and fellow beings. Therefore, madrasah must go beyond cognitive instruction and develop governance systems capable of preventing the emergence of intolerant behavior among students.

This article comprehensively examines how educational administration and supervision can play significant roles in mitigating intolerance through the implementation of a curriculum of love. This approach emphasizes rahmah (compassion), empathy, respect for diversity, and spiritual character development as essential foundations of Islamic education. The administrative structure of madrasah must include policies, programs, and procedures that intentionally cultivate an inclusive culture, such as anti-discrimination regulations, schoolwide values of openness, and collaborative activities that promote unity among students. Educational supervision also plays a pivotal role in ensuring that the curriculum of love is applied effectively in classroom practices. Through mentoring, classroom observations, and constructive evaluations, supervisors help teachers develop tolerant, dialogic, and non-oppressive teaching practices. Humanistic supervision encourages teachers to serve as role models of compassion, avoid negative stereotypes, and teach students to view differences as a blessing rather than a threat.

The integration of a love-based curriculum aims to cultivate empathy, appreciation of differences, peaceful conflict resolution skills, and deep spiritual awareness in learners. This curriculum focuses not only on content delivery but also on creating meaningful learning experiences that shape students’ emotional and moral sensitivity. Thus, this article concludes that mitigating intolerance among Madrasah Ibtidaiyah students cannot rely solely on instructional materials. It must be supported by human-centered educational administration, compassionate supervisory practices, and a curriculum rooted in love as the soul of Islamic education. This holistic approach is essential to developing a generation of Muslims who are noble in character, tolerant, and ready to live harmoniously within a pluralistic society.

Downloads
Download data is not yet available.
References

Al-Attas, S. M. N. (2018). Islamic education: Concept, philosophy, and practice. Kuala Lumpur: ISTAC.

Creswell, J. W. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). Sage.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis (3rd ed.). Sage.

Owens, R. (2020). Organizational behavior in education. Pearson.

Zainuri, A. (2022). Pendidikan berbasis cinta dalam perspektif Islam. Palembang: UIN Raden Fatah Press.

Ahmad, M., & Rahman, F. (2020). Mitigating intolerance through Islamic education. Journal of Islamic Educational Research, 7(1), 33–47.

Sulaiman, N. (2021). Curriculum of love in Islamic primary schools. Journal of Moral and Civic Education, 8(2), 77–90.

Hamid, A. (2019). Supervisi pendidikan berbasis nilai dalam madrasah. Jurnal Pendidikan Islam, 4(1), 12–25.

Yuliani, S. (2020). Moderasi beragama pada pendidikan dasar Islam. Jurnal Studi Pendidikan Islam, 5(3), 102–118.

Mahfud, C. (2018). Islamic moderation and its educational implications. International Journal of Islamic Studies, 12(2), 45–59.

Samani, M. H. (2019). Child intolerance behavior in elementary schools. Journal of Education and Psychology, 11(1), 20–35.

Hidayat, R. (2020). Supervisory role in preventing discrimination in Islamic schools. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 7(2), 89–103.

Zahra, F., & Satria, I. (2021). Inclusive culture in madrasah ibtidaiyah. Journal of Islamic Learning, 6(1), 50–63.

Aziz, A. (2022). Empathy-based learning model for Islamic schools. Jurnal Teknologi Pendidikan Islam, 9(2), 112–128.

Muzakki, A. (2020). Early tolerance education in Islamic elementary schools. Jurnal Pendidikan Dasar Islam, 3(2), 55–70.

Cover Image
Downloads
Published
2025-12-09
Section
Articles

How to Cite

ADMINISTRASI DAN SUPERVISI MITIGASI INTOLERANSI: KURIKULUM BERBASIS CINTA PADA MADRASAH IBTIDAIYAH. (2025). Sindoro: Cendikia Pendidikan, 18(2), 1031-1040. https://cibjournal.com/index.php/sindoro/article/view/3077

Most read articles by the same author(s)

Similar Articles

31-40 of 600

You may also start an advanced similarity search for this article.