Abstract
Istidlāl adalah metode penalaran yang fundamental dalam ilmu logika yang berperan dalam kemajuan tradisi intelektual Islam. Secara konseptual, istidlāl dipahami sebagai proses berpikir logis dalam menarik kesimpulan berdasarkan premis yang sudah diketahui atau diyakini kebenarannya. Dalam hal ini, metode ini tidak hanya digunakan dalam logika formal, tetapi juga berfungsi sebagai pendekatan dasar dalam berbagai disiplin ilmu Islam, seperti fiqh, uṣūl al-fiqh, teologi (ilm al-kalam), dan tafsir al-Qur’an. Berdasarkan istidlāl, para ulama mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan baru yang tidak secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadis. Artikel ini bertujuan untuk mempelajari konsep istidlāl secara komprehensif, dengan fokus pada definisi, jenis-jenis istidlāl dalam ilmu logika, dan penerapannya dalam studi Islam. Jenis-jenis istidlāl yang dibahas dalam artikel ini adalah istidlāl qiyāsī (deduktif), istidlāl istiqrā’ī (induktif), istidlāl ta‘līlī (kausal), istidlāl tamthīlī (analogis), dan istidlāl i‘tibārī (teoritis). Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda dan tingkat kekuatan yang berbeda dalam argumentasi, sehingga penggunaannya memerlukan kehati-hatian yang besar agar tidak menciptakan kekeliruan logis.
Metode penelitian ini berusaha mendalami literasi data pustaka dengan kualitatif-deskriptif, dengan pengkajian terhadap buku-buku ulama usul mantik dan Islam, baik klasik maupun kontemporer. Dari kajian tersebut, didapatkan hasil bahwa istidlāl memiliki fungsi dan peran yang sangat signifikan, lebih-lebih, dalam mendisain dan merancang pola berpikir yang rasional, sistematis, dan argumentatif dalam tradisi Islam. Hanya saja, istidlāl tersebut juga mendapati batasan dan kelemahan ketika menggunakan penalaran induktif dan analogis yang sifatnya akan lebih berfokus pada probabilitas. Untuk itu, pemahaman terhadap prinsip-prinsip istidlāl yang dipegang, benar-benar sangat diutamakan, agar metode ini dapat dipergunakan dengan sewiwi dan sebetulnya dalam perkembangan pemikiran Islam yang lebih kontemporer dan saintifi
References
Al-Farabi. (1951). Risalah fi al-‘Aql (D. M. Dunlop, Trans.). Cambridge: Cambridge University Press.
Al-Farabi. (1995). Kitab al-Mantik. Beirut: Dar al-Fikr.
Al-Ghazali. (1997). Maqasid al-Falasifah (D. Marmura, Trans.). Notre Dame: University of Notre Dame Press.
Al-Ghazali. (1999). Al-Munqidh min al-Dalal (R. J. McCarthy, Trans.). Louisville: Fons Vitae.
Al-Juwayni. (1985). Kitab al-Irshad. Beirut: Dar al-Nafais.
Al-Kindi. (1974). Risalah fi al-Tawhid (A. Ivry, Trans.). Albany: SUNY Press.
Al-Qurtubi. (1967). Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (Jilid 3). Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyya.
Al-Razi, Fakhr al-Din. (1997). Al-Mahsul fi ‘Ilm al-Usul. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Shafi’i. (1961). Al-Risalah (M. Khadduri, Trans.). London: Islamic Texts Society.
Al-Shahrastani. (1990). Nihayat al-Iqdam fi ‘Ilm al-Kalam. Kairo: Maktabah al-Khanji.
Ibn Khaldun. (1967). Muqaddimah (F. Rosenthal, Trans., Jilid 1). Princeton: Princeton University Press.
Ibn Rushd. (1954). Tahafut al-Tahafut (S. van den Bergh, Trans.). London: Gibb Memorial Trust.
Ibn Sina. (2004). Al-Isharat wa al-Tanbihat (D. Saliba, Trans.). London: Dar al-Hikma.
Ibn Taymiyyah. (1980). Dar’ Ta‘arud al-‘Aql wa al-Naql. Kairo: Dar al-Hadith.