MENGGALI IDENTITAS SOSIAL DAN POLITIK MELALUI TATA RIAS WAJAH DI ERA RENAISANS EROPA
Keywords:
Tata rias wajah, Identitas sosial-politik, Renaisans Eropa, Komunikasi artifak, Perancangan diri, KekuasaanAbstract
Penelitian ini menginvestigasi fungsi tata rias wajah sebagai alat pembentukan dan penyampaian identitas sosial-politik di Eropa pada zaman Renaisans. Aktivitas merias diri, yang sering dianggap sebagai urusan kecantikan saja, sebenarnya merupakan bentuk perancangan diri yang disengaja. Riasan menjadi bahasa bisu yang memperjelas status, menguatkan kekuasaan, dan menegosiasikan peran dalam masyarakat yang berubah. Dengan menganalisis kosmetik sebagai sarana komunikasi, penelitian ini mengungkap perannya sebagai penanda strata sosial, alat politik, pengatur norma gender, dan bahan perbincangan moral. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan sejarah, menggunakan sumber data primer seperti karya seni dan telaah pustaka dari berbagai disiplin ilmu. Analisis dilakukan dengan menghubungkan praktik rias dengan struktur masyarakat, berdasarkan teori perancangan diri dan komunikasi artifak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa standar kecantikan seperti kulit pucat merupakan kode kelas yang diwujudkan melalui bahan kosmetik berunsur timbal, membedakan bangsawan dari rakyat biasa. Riasan juga berperan sebagai instrumen politik, seperti strategi citra Ratu Elizabeth I yang mengubah wajahnya menjadi lambang kekuasaan negara. Selain itu, terdapat ambivalensi gender dalam penggunaan riasan, dan hukum kemewahan turut membentuk praktik rias. Kesimpulannya, tata rias Renaisans merupakan teknologi diri yang penting, memungkinkan individu menampilkan jati diri dalam batasan masyarakat. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana penampilan fisik dapat menjadi medium ekspresi dan perlawanan dalam konteks kekinian.
Downloads
References
Allen-Flanagan, T. (2020). The face of an empire: Cosmetics and whiteness in portraits of Elizabeth I.
https://scholar.google.com/scholar?q=Allen-Flanagan+2020+Cosmetics+Elizabeth+I
Chakravarty, U. (2022). Slavery and white womanhood in early modern England. Cambridge University Press.
Desierto, D., & Koyama, M. (2024). The political economy of status competition: Sumptuary laws in preindustrial Europe. https://scholar.google.com/scholar?q=Desierto+Koyama+2024+sumptuary+laws
Dolan, F. E. (1993). Taking the pencil out of God’s hand: Art, nature, and the face-painting debate in early modern England. PMLA, 108(2), 224–239.
Dourado, C. S., Fustinoni, S. M., & Schirmer, J. (2018). Body, culture and meaning.
https://scholar.google.com/scholar?q=Dourado+2018+Body+Culture+Meaning
Ethridge, L. K. (2013). Women’s fashion and the Renaissance: Considering fashion, women’s expression, and sumptuary law in Florence and Venice.
https://scholar.google.com/scholar?q=Ethridge+2013+Women%27s+Fashion+Renaissance
Greenblatt, S. (1980). Renaissance self-fashioning: From More to Shakespeare. University of Chicago Press.
https://scholar.google.com/scholar?q=Greenblatt+1980+Renaissance+self+fashioning
Hansen, M. F. (2022). Ambiguity matters: Cunning counterfeits and attractive adulterations in sixteenth-century Italian art.
https://scholar.google.com/scholar?q=Hansen+2022+Ambiguity+Matters
Killerby, C. K. (1999). ‘Heralds of a well-instructed mind’: Nicolosa Sanuti’s defence of women and their clothes.
https://scholar.google.com/scholar?q=Killerby+1999+Heralds+of+a+well-instructed+mind
Lee, T. (2022). Migration and mimesis in the English Renaissance, 1492–1668.
https://scholar.google.com/scholar?q=Lee+2022+Migration+Mimesis
Mans, D. R. A., & Grant, A. (2017). “A thing of beauty is a joy forever”: Plants and plant-based preparations for facial care in Suriname. Journal of Ethnopharmacology, 199, 182–202.
Martinez Murcia, K. A., Dunkle, J., Mallory, M., et al. (n.d.). Cultural identity and fashion trends: How international students relate their cultural identity to fashion.
https://scholar.google.com/scholar?q=Martinez+Murcia+Cultural+Identity+Fashion
O’Neill, E., & Portela, I. (2000). Prince of Ulster or arch-traitor? The self-fashioning of Hugh O’Neill.
https://scholar.google.com/scholar?q=O%E2%80%99Neill+Portela+2000+self-fashioning
Petersen, F. B. (2013). Authenticity and its contemporary challenges: On techniques of staging bodies.
https://scholar.google.com/scholar?q=Petersen+2013+Authenticity
Rénéric-Chauvin, M. (2012). Review of the multifaceted feminine, both sacred and secular.
https://scholar.google.com/scholar?q=R%C3%A9n%C3%A9ric-Chauvin+2012
Robertson, J. M., & Kingsley, B. E. (2021). Behind the façade: Motivations for cosmetic usage by women. Cogent Psychology, 8(1), 1880287.
Searing, C., & Zeilig, H. (2022). All made up: The role of make-up for women in later life. Journal of Women & Aging, 34(3), 378–396.
Spicer, J. N. (2015). ‘A fare bella’: The visual and material culture of cosmetics in Renaissance Italy (1450–1540).
https://scholar.google.com/scholar?q=Spicer+2015+fare+bella
Terry-Roisin, E. A. (2024). Renaissance self-fashioning after 44 years: Hybridity, conversos, individuation, and littérature totale.
https://scholar.google.com/scholar?q=Terry-Roisin+2024+Renaissance+self+fashioning
Thao, J. (2021). Cultural impact on identity and how it is expressed through dress.
https://scholar.google.com/scholar?q=Thao+2021+cultural+impact+dress
Van Dijk, S. (2022). Courtly splendour: Fashioning men and women.
https://scholar.google.com/scholar?q=Van+Dijk+2022+Courtly+Splendour
Watt, G. (2023). Making faces, performing persons.
https://scholar.google.com/scholar?q=Watt+2023+Making+Faces
Weller, T. H. (2019). “He knows them by their dress”: Dress and otherness in early modern Spain. Journal of Early Modern History, 23(2–3), 87–112.

