This study aims to design and analyze a small-scale power generation system based on a Thermoelectric Generator (TEG) that utilizes heat from a black-colored zinc roof surface as a thermal energy source. The utilization of roof heat was selected due to the high solar radiation intensity in tropical regions such as Pontianak, which provides the potential to generate temperature differences that can be converted into electrical energy through the Seebeck effect. The designed system employs 10 SP1848 TEG modules connected in series to increase the output voltage. Experimental testing was conducted from 09:00 to 14:30 WIB under two conditions: without cooling and with cooling using ice attached to the heatsink on the cold side. The results show that under the non-cooling condition, the temperature difference (ΔT) ranged from 3–12 °C, producing a maximum voltage of 3.8 V and a maximum power output of 0.209 W. Meanwhile, under the cooling condition, ΔT increased to 13.9–19.7 °C, resulting in a maximum voltage of 6.69 V and a maximum power output of 0.889 W. The increase in temperature difference significantly affected the improvement of voltage and power output. The ΔT pattern followed the daily solar radiation characteristics, reaching its peak between 10:30 and 13:30 WIB. Based on these findings, the utilization of heat from a black zinc roof using a TEG system demonstrates potential as a small-scale alternative electrical energy source. The system performance is highly influenced by the effectiveness of cooling on the cold side to maintain an optimal temperature difference.
Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan menganalisis sistem pembangkit listrik skala kecil berbasis Thermoelectric Generator (TEG) yang memanfaatkan panas dari permukaan atap seng berwarna hitam sebagai sumber energi termal. Pemanfaatan panas atap seng dipilih karena wilayah tropis seperti Pontianak memiliki intensitas radiasi matahari yang tinggi sepanjang tahun, sehingga berpotensi menghasilkan perbedaan suhu yang dapat dikonversi menjadi energi listrik melalui efek Seebeck. Sistem yang dirancang menggunakan 10 modul TEG tipe SP1848 yang disusun secara seri untuk meningkatkan tegangan keluaran. Pengujian dilakukan pada rentang waktu pukul 09.00–14.30 WIB dalam dua kondisi, yaitu tanpa pendingin dan dengan pendingin berupa es batu yang ditempelkan pada heatsink sisi dingin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi tanpa pendingin, perbedaan suhu (ΔT) yang dihasilkan berkisar antara 3–12 °C dengan tegangan maksimum sebesar 3,8 V dan daya tertinggi 0,209 W. Sedangkan pada kondisi dengan pendingin, ΔT meningkat menjadi 13,9–19,7 °C dengan tegangan maksimum mencapai 6,69 V dan daya tertinggi sebesar 0,889 W. Peningkatan perbedaan suhu secara signifikan berpengaruh terhadap kenaikan tegangan dan daya keluaran sistem. Pola perubahan ΔT mengikuti karakteristik radiasi matahari harian, di mana nilai maksimum terjadi pada rentang waktu 10.30–13.30 WIB. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan panas atap seng berwarna hitam menggunakan sistem TEG berpotensi sebagai sumber energi listrik alternatif skala kecil. Kinerja sistem sangat dipengaruhi oleh efektivitas pendinginan pada sisi dingin modul untuk mempertahankan perbedaan suhu yang optimal.
You may also start an advanced similarity search for this article.