Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer

FAKTOR RISIKO TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 6-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BUA KECAMATAN BUA KABUPATEN LUWU

Abstract

Stunting masih menjadi masalah gizi kronis di Indonesia, termasuk di Kabupaten Luwu, dan berdampak pada tumbuh kembang anak serta risiko penyakit di masa depan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor risiko stunting pada anak usia 6–59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Bua. Desain penelitian yang digunakan adalah case control dengan 84 sampel balita (42 stunting, 42 tidak stunting) yang dipilih secara purposive dan disesuaikan usianya. Variabel yang diteliti meliputi pengetahuan ibu, riwayat ASI eksklusif, infeksi saluran cerna, berat dan panjang badan lahir, serta asupan protein dan energi. Data dikumpulkan melalui wawancara, buku KIA, dan pengukuran antropometri. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengetahuan ibu, pemberian ASI eksklusif, berat dan panjang badan lahir, serta asupan protein dan energi berhubungan signifikan dengan kejadian stunting. Namun, riwayat infeksi tidak berpengaruh. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa pengetahuan ibu yang rendah, tidak adanya ASI eksklusif, dan kurangnya asupan protein merupakan faktor dominan. Anak dari ibu dengan pengetahuan rendah berisiko 9,2 kali lebih tinggi mengalami stunting, dan tanpa ASI eksklusif berisiko 10,9 kali lebih tinggi. Asupan protein yang cukup berperan sebagai faktor pelindung. Kesimpulannya, pengetahuan ibu, riwayat ASI eksklusif, dan asupan protein merupakan faktor utama yang memengaruhi kejadian stunting.

Kata kunci: Stunting, Pengetahuan Ibu, ASI Eksklusif, Asupan Protein

Keywords

stunting

pdf

References

  1. Gusman, Y. M., & Farlikhatun, L. (2023). Hubungan riwayat pemberian ASI eksklusif, pola asuh dan pengetahuan ibu tentang gizi dengan terjadinya stunting pada balita usia 24–59 bulan. Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia, 5(2), 78–85.
  2. Hamdiah, D., & Budiyanto, A. (2021). Risiko antara tingkat pengetahuan ibu dengan kejadian stunting. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1(1), 1-10.
  3. Herlina, S., Handayani, R., & Damayanti, A. (2023). Pengaruh riwayat pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian stunting pada balita. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 14(1), 91–97.
  4. Madyasari, P. N., Purwaningsih, E., & Wahyuningsih, T. (2022). Hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang stunting dengan deteksi stunting pada balita di Kecamatan Sawahan. Jurnal Ilmu Kesehatan Aisyiyah, 7(2), 145 152.
  5. Mugianti, S., Mulyadi, A., & Anam, A. K. (2021). Risiko Panjang Badan Lahir dan Berat Badan Lahir dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungadem Kabupaten Bojonegoro. Sehat Rakyat: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat3(2), 1080-1089.
  6. Rahmalia, F. Y., & Azinar, M. (2024). Risiko riwayat pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan. Akselerasi: Jurnal Ilmiah Nasional, 6(1), 43-52.
  7. Rahmawati, R., Rifai, M., & Setiahati, N. K. (2021). Analisis faktor risiko ibu dan anak balita terhadap stunting di wilayah kerja Puskesmas Sangurara. PREPOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 5(2), 870–881.
  8. Ramdhany, R. D., Yuniarti, L., & Indrasari, E. R. (2025). Risiko berat badan lahir rendah dan status gizi ibu saat hamil dengan kejadian stunting pada balita. Bandung Conference Series: Medical Science, 5(1), 405-412.
  9. Sahitarani, R., Saptawati, A., & Widyastuti, A. (2023). Kaitan stunting dengan frekuensi dan durasi penyakit infeksi pada anak usia 24–59 bulan di Kecamatan Sedayu, Bantul. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 12(1), 33–40.
  10. Saputra, M. R., Malik, R., Fitriyasti, B., Wahyuni, S., & Suharni. (2023). Hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang stunting dengan kejadian stunting pada anak usia 4–13 tahun di Puskesmas Gunung Kota Padang Panjang. Menara Ilmu, 17(1), 51–53.

Similar Articles

You may also start an advanced similarity search for this article.