I Kadek Agus Darma Yoga, Vincent Suyono Khau, Kevin Wu (Author)
Balinese traditional architecture represents a cultural heritage rich in philosophical, aesthetic, and spiritual values rooted in the Tri Hita Karana concept. One of its essential elements, the angkul-angkul or traditional gate, functions not only as an entrance but also as a symbolic reflection of order and balance imbued with mathematical principles. From an ethnomathematical perspective, the angkul-angkul embodies applications of geometry, symmetry, proportion, and ratio that are integrated with local wisdom. This study aims to explore the ethnomathematical concepts embedded in the design and construction of Balinese angkul-angkul and to examine its potential as a contextual medium for culturally based mathematics learning. The research employs a qualitative approach with an ethnographic method through observation, documentation, and in-depth interviews with Balinese craftsmen and cultural practitioners. Data were analyzed descriptively and interpretively to identify mathematical patterns within the structure and proportions of the angkul-angkul. The findings reveal the presence of bilateral symmetry, spatial balance based on the Tri Mandala concept, and traditional measurement systems such as lengkat and nyari, which demonstrate implicit mathematical rationality. This study concludes that Balinese traditional architecture not only carries aesthetic and symbolic value but also embodies mathematical dimensions that can enrich the development of contextual and culture-based mathematics education.
Arsitektur tradisional Bali merupakan warisan budaya yang merepresentasikan nilai filosofis, estetika, dan spiritual yang berpijak pada konsep Tri Hita Karana. Salah satu elemennya, angkul-angkul, tidak hanya berfungsi sebagai gerbang masuk, tetapi juga mencerminkan keteraturan dan keseimbangan yang sarat makna matematis. Dalam konteks etnomatematika, angkul-angkul memuat penerapan prinsip geometri, simetri, proporsi, dan rasio yang terintegrasi dengan kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi konsep-konsep etnomatematika pada desain dan konstruksi angkul-angkul Bali serta menelaah potensinya sebagai sumber pembelajaran matematika berbasis budaya. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode etnografi melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan perajin serta tokoh budaya Bali. Analisis data dilakukan secara deskriptif-interpretatif untuk mengidentifikasi pola matematis pada bentuk dan proporsi angkul-angkul. Hasil penelitian menunjukkan adanya penerapan simetri bilateral, keseimbangan ruang Tri Mandala, serta sistem ukuran tradisional seperti lengkat dan nyari yang mengandung rasionalitas matematis. Temuan ini menegaskan bahwa arsitektur tradisional Bali tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga memuat dimensi matematis yang dapat dijadikan basis pengembangan pembelajaran matematika kontekstual berbasis budaya.