Penelitian ini mengkaji pengelolaan limbah lumpur dari proses pencucian bauksit di PT ANTAM Tbk UBPB Tayan, Kalimantan Barat. Proses pencucian menghasilkan lumpur yang perlu diendapkan atau dipadatkan sebelum air limbah dapat dikembalikan ke lingkungan. Efisiensi pengendapan lumpur sangat penting untuk mendukung pengelolaan limbah tambang yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Simulasi dilakukan dalam skala laboratorium menggunakan akuarium berukuran 150 cm × 25 cm × 25 cm. Pengamatan dilakukan selama 24 jam dengan memantau perubahan ketebalan lumpur dan menghitung waktu pengendapan. Nilai Concretion Factor (CF) dihitung untuk mengevaluasi efisiensi pemisahan partikel padat dan cair. Hasil penelitian menunjukkan proses pengendapan mengikuti pola zone settling dengan zona air jernih, zona transisi, dan zona lumpur padat. Kecepatan pengendapan tertinggi terjadi pada menit ke-30 (0,00047 m/s) dan menurun hingga mendekati nol. Setelah 24 jam, ketebalan endapan lumpur mencapai 21 cm dan stabil. Nilai CF sebesar 59,45% menunjukkan efisiensi pemisahan partikel sebesar 59%. Kesimpulannya, pengendapan alami efektif untuk memisahkan partikel besar dalam waktu singkat, namun kurang efisien untuk partikel halus dalam jangka panjang. Metode ini cocok sebagai tahap awal pengolahan lumpur.
You may also start an advanced similarity search for this article.