Abstract
Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) juga berpotensi mengalami kesulitan dalam mengatur emosi dan kesadaran diri akibat proses
hukum yang terjadi dan akibat stigma sosial yang mungkin muncul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana dan bagaimana art therapy berupa mural dapat meningkatkan regulasi emosi dan kesadaran diri ABH di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dengan observasi terhadap empat remaja ABH yang berusia 14–16 tahun selama 3 hari pelaksanaan kegiatan. Hasil menunjukkan bahwa terdapat peningkatan dalam hal keterlibatan dan kemampunanya untuk mengekspresikan emosi secara lebih adaptif, kesadaran diri dan kontrol emosi pada semua subjek. Kegiatan mural dapat digunakan secara efektif untuk mempertunjukan ekspresi nonverbal dalam mendampingi proses rehabilitasi untuk mendukung psikologis ABH.
References
Bowen, K. L., Morgan, J. E., Moore, S. C., & Van Goozen, S. H. M. (2014). Young offenders’ emotion recognition dysfunction across emotion intensities: Explaining variation using psychopathic traits, conduct disorder and offense severity. Journal of Psychopathology and Behavioral Assessment, 36(1), 60–73. https://doi.org/10.1007/s10862-013-9368-z
Hasanah, U. (2013). Hasanah, (2013). Psikoborneo, 1(2), 102–107.
Pratama, M. W., & Jannah, M. (2024). Eksplorasi Regulasi Emosi pada Generasi Z di Mojokerto Exploration of Emotion Regulation on Generation Z in Mojokerto. Character Jurnal Penelitian Psikologi, 11(01), 256–263. https://doi.org/10.26740/cjpp.v11i1.61279
Setyoningrum, J. P. J., & Syafiq, M. (2020). Pengalaman Anak Berkonflik dengan Hukum Dalam Menjalani Rehabilitasi. Character : Jurnal Penelitian, 7(1), 1–10.
Zhang, Y. (2025). Impact of arts activities on psychological well-being: Emotional intelligence as mediator and perceived stress as moderator. Acta Psychologica, 254, 1–12. https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2025.104865