Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer

Articles

Vol. 5 No. 2 (2025): Panorama: Jurnal Kajian Pariwisata, ISSN 3031-5085

SITUS MENHIR MAEK SEBAGAI LIVING MEGALITHIC HERITAGE DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA DI SUMATERA BARAT

Submitted
November 27, 2025
Published
2025-11-27

Abstract

Studi ini mengkaji potensi situs menhir maek di nagari maek, kabupaten lima puluh kota, Sumatra Barat sebagai destinasi wisata warisan megalitik hidup. Tidak seperti kebanyakan situs megalitik di Indonesia yang telah menjadi peninggalan arkeologi, menhir maek tetap aktif digunakan dalam upacara adat Minangkabau. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan para pemimpin adat dan masyarakat lokal, dan studi dokumentasi, penelitiann ini mengungkapkan bahwa situs tersebut memiliki potensi yang signifikan untuk pengembangan wisata warisan budaya. Keunikan tradisi megalitik hidup yang terintegrasi dengan sistem sosial Minangkabau memberikan keunggulan kompetitif yang kuat. Namun, pengembangan menghadapi tantangan termasuk aksesibilitas yang terbatas, infrastruktur yang minim, dan kebutuhan untuk menyeimbangkan kepentingan komersial dengan pelestarian nilai-nilai sakral. Strategi yang direkomendasikan mengadopsi pendekatan pariwisata berbasis masyarakat (CBT) yang menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama dan penerima manfaat langsung. Strategi utama meliputi peningkatan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, implementasi manajemen kelembagaan, dan penguatan peraturan. Penelitiann ini berkontribusi pada pengembangan wisata warisan budaya berkelanjutan dan pelestarian tradisi megalitik Minangkabau.

References

  1. Aas, C., Ladkin, A., & Fletcher, J. (2005). Stakeholder collaboration and heritage management. Annals of Tourism Research, 32(1), 28-48.
  2. Ardiwidjaja, R. (2018). Pengembangan wisata warisan budaya berbasis masyarakat di Indonesia. Jurnal Pariwisata Indonesia, 13(2), 145-160.
  3. Azwar, A. (2018). Perubahan fungsi megalitik akibat modernisasi di Sumatera Barat. Jurnal Antropologi Budaya, 12(1), 78-92.
  4. Cooke, K. (2006). Community-based tourism in developing countries. Journal of Sustainable Tourism, 14(3), 234-251.
  5. Dewi, M. H. U., Fandeli, C., & Baiquni, M. (2013). Pengembangan desa wisata berbasis partisipasi masyarakat lokal di Desa Wisata Jatiluwih Tabanan, Bali. Jurnal Kawistara, 3(2), 117-226.
  6. Garrod, B., & Fyall, A. (2001). Heritage tourism: A question of definition. Annals of Tourism Research, 28(4), 1049-1052.
  7. Hampton, M. P. (2005). Heritage, local communities and economic development. Annals of Tourism Research, 32(3), 735-759.
  8. Haris, S. (2015). Potensi wisata megalitik di Sumatera Selatan. Jurnal Arkeologi Indonesia, 8(2), 112-128.
  9. Koens, K., Postma, A., & Papp, B. (2018). Is overtourism overused? Understanding the impact of tourism in a city context. Sustainability, 10(12), 4384.
  10. Koestoro, L. P. (2016). Megalitik dan sistem sosial Minangkabau. Jurnal Arkeologi Padang, 9(1), 45-67.
  11. Kokasih, E. A. (2010). Situs megalitik sebagai living heritage di Indonesia. Berkala Arkeologi, 30(2), 156-173.
  12. MacCannell, D. (1976). The Tourist: A New Theory of the Leisure Class. New York: Schocken Books.
  13. McKercher, B., & du Cros, H. (2002). Cultural Tourism: The Partnership Between Tourism and Cultural Heritage Management. New York: Haworth Hospitality Press.
  14. McKercher, B., Ho, P. S. Y., & du Cros, H. (2005). Relationship between tourism and cultural heritage management: Evidence from Hong Kong. Tourism Management, 26(4), 539-548.
  15. Moscardo, G. (1996). Mindful visitors: Heritage and tourism. Annals of Tourism Research, 23(2), 376-397.
  16. Nurhakim, M., et al. (2019). Menhir Maek sebagai living heritage di Nagari Maek, Lima Puluh Kota. Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, 5(1), 34-52.
  17. Nuryanti, W. (1996). Heritage and postmodern tourism. Annals of Tourism Research, 23(2), 249-260.
  18. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 3 Tahun 2013 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2013-2028.
  19. Pitana, I. G., & Gayatri, P. G. (2005). Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit Andi.
  20. Poria, Y., Butler, R., & Airey, D. (2006). Links between tourists, heritage, and reasons for visiting heritage sites. Journal of Travel Research, 43(1), 19-28.
  21. Prasetyo, B. (2015). Living megalithic tradition in Indonesia. Amerta: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, 33(1), 1-18.
  22. Salazar, N. B. (2012). Community-based cultural tourism: Issues, threats and opportunities. Journal of Sustainable Tourism, 20(1), 9-22.
  23. Simanjuntak, T., et al. (2008). Arkeologi dan Pariwisata di Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.
  24. Smith, L., & Akagawa, N. (2009). Intangible Heritage. London: Routledge.
  25. Suansri, P. (2003). Community Based Tourism Handbook. Bangkok: Responsible Ecological Social Tour-REST.
  26. Sukendar, H. (1983). Peninggalan tradisi megalitik di daerah Sumatera. Bulletin Yaperna, 2(5), 23-40.
  27. Sulistyanto, B. (2004). Keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan situs megalitik di Sulawesi Tengah. Jurnal Arkeologi Indonesia, 2(1), 89-105.
  28. Tilden, F. (2007). Interpreting Our Heritage (4th ed.). Chapel Hill: University of North Carolina Press.
  29. Timothy, D. J., & Boyd, S. W. (2003). Heritage Tourism. Harlow: Prentice Hall.
  30. UNESCO. (2003). Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage. Paris: UNESCO.
  31. Wijesuriya, G., Thompson, J., & Young, C. (2013). Managing Cultural World Heritage. Paris: UNESCO World Heritage Centre.
  32. Wijesuriya, G., et al. (2017). People-centred approaches to the conservation of cultural heritage: Living heritage. ICCROM Conservation Studies, 8, 1-145.

Similar Articles

11-20 of 34

You may also start an advanced similarity search for this article.